Selasa, 13 Februari 2024

ANTARA PEMILU, ABU DAN VALENTINE

Sebagai warga negara yang cinta NKRI, wajiblah memberikan suara untuk menentukan siapa pemimpin di semua levelnya (Presiden dan wakil, DPR RI, DPD, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten) untuk 5 tahun ke depan. Bukan soal kalah-menang; tetapi seperti kata Pastor Frans Magnis Suseno, SJ katakan; "Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik, tetapi menghindari yang terburuk berkuasa". Maka dari itu "pilihlah pemimpin sesuai hati nurani". 

Dalam hajatan/pesta demokrasi, sebagai umat Katolik pun memulai puasa (retret agung) untuk merenungkan cinta Tuhan kepada umat-NYA yang rela menderita, wafat dan bangkit Mulia. Berkaitan dengan pesta demokrasi; siapapun yang terpilih adalah mereka yang dipercayakan warga negara, namun tentu ada juga yang kalah. Maka dari itu, yang kalah janganlah berkecil hati karena belum saatnya, atau juga sudah lewat masanya. Dan nikmatilah apa yang ada sambil merenungkan nilai-nilai hidup apa saja yang telah diberikan kepada diri, keluarga dan sesama sehingga itu menjadi bekal di hari akhir. 

Bersamaan dengan itu, bagi sebagian besar orang di seluruh dunia merayakan hari kasih sayang.

Berhubungan dengan dua moment diatas, perlulah direfleksikan bahwa sebagai warga negara dengan cinta yang sama memberikan suara sebagai bentuk dukungan bagi pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan negara ditangan orang yang tepat dengan menghayati cinta Tuhan yang terluka, teraniaya dan bahkan di bunuh demi keselamatan banyak orang. Umat Katolik ditandai dengan Abu sebagai simbol manusia lemah, rapuh dihadapan Tuhan dan sesama. Bukan dengan coklat kasih sayang atau bentuk ungkapan kasih sayang yang lainnya yang diberikan kepada sesama. Abu dan coklat menjadi satu dalam cinta yang melekat pada republik Indonesia tercinta.

Cinta akan rumah NKRI membakar semangat kasih sayang dan cinta akan Tuhan.


Demokrasi menyatu dalam kasih sayang dengan cinta yang nyata dalam kasih Tuhan.

Sabtu, 18 Maret 2023

PENA WAJAH DI POTRETKU

Tak perlu menyukai semua yang ada pada diri seseorang atau sesuatu untuk mencintainya, cukuplah memberi sedikit ruang untuk menjadi sandaran disaat butuh seseorang untuk menjadi tumpuannya karena kebahagiaan bukan diperoleh dari mencintai tetapi bagaimana cara kita mencintai. Sering kita cenderung terjerat dengan tampang luarnya; tanpa mengenal isi dalamnya. Penerimaan diri seseorang dengan apa adanya; baik kelebihan maupun kekurangan; terbuka dan saling menghormati untuk sharing/berbagi pengalaman. Kesemuanya itu adalah bagian dari diri dan kemanusiawian yang tidak dapat dihindari karena ada dan melekat dalam diri setiap pribadi. Pada moment tertentu, kita sering lari dari kenyataan bahwa tidak seharusnya seperti itu, tidak boleh seperti ini namun tuntutan dan kemanusiawian itu tetap mendesak kita untuk menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi setiap situasi dan persoalan yang ada. Potret tentang gambaran dan keberadaan diri seseorang dapat diketahui dari bagaimana ia menempatkan diri dalam menerima semua persoalan; baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Adalah lebih baik kalau dalam menghadapi persoalan yang menantang; kita mencari seseorang yang mampu mengarahkan diri kita sehingga tidak terjebak dalam kekeliruan dan bahkan kesalahan. Namun sebelum menemukan seorang figur yang siap mendengarkan; baiklah kita mendapati DIA yang selalu dan senantiasa ada bagi setiap kita, yang telah menjadikan segala sesuatu ada dan tiada dalam kekuatan-NYA. IA yang menjadikan segalanya ada dan tiada akan memberikan jalan terbaik yang kita butuhkan. Kedekatan/relasi yang baik dengan-NYA akan menjadikan segala sesuatu mudah untuk dihadapi dan dijalankan.

Rasanya singkat sekali hari yang dilalui; khususnya hari ini. Namun semakin larut dengan pikiran dan situasi; sebaiknyalah cepat berganti dan berakhir. Namun sebelum berakhirnya hari ini, pantaslah syukur pujian atas semua berkat dan kehidupan serta ada dan hadir bersama dalam satu kebersamaan dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab di panjatkan kehadirat-NYA. Karena atas berkat dan penyelenggaraan-NYA, kita masih diberi kesempatan untuk bertutur sapa dalam ada bersama baik di dunia nyata; maupun di dunia maya. Begitu banyak kekurangan dan kelemahan yang ada dalam diri ini namun IA Yang Maha Ada menjadikan semuanya ada dan indah. Setahun yang lewat telah IA berikan untuk semakin mantap menatap hidup dalam menata diri meniti panggilan. Sujudku karena sampai saat ini masih dapat ada dan hadir bersama di tengah orang-orang hebat yang selalu memperkayaku dengan segala ada dan ketiadaannya. Kadang aku menyimpang dari jalan yang IA berikan karena kesesatan dan kemanusiawianku. Kadang aku hanya mempersulit keadaan orang-orang yang mencintaiku dan mengecewakan mereka dengan sikap dan adaku. Semoga IA memampukanku untuk menggunakan sisa usiaku yang IA berikan ini dengan baik dalam tugas dan karya pelayananku; karena tiada yang tahu kapan usia ini berakhir dan bagaimana berakhirnya. Trimakasih buatmu semua yang telah dengan cara masing-masing telah mencintai dan mendukungku. Trimakasih kepada sama saudaraku se-komunitas; SVD Ruteng khususnya dan sama saudaraku di Provinsi SVD Ruteng pada umumnya dan teman-teman di Komisi JPIC SVD Ruteng yang selalu dan senantiasa ada bersama; trimakasih kepada kakek, nenek, dan anggota keluarga besar Simu dan pertaliannya yang telah berpulang; yang senantiasa mendoakanku; trimakasih bapak-mama; saudara-saudari, orang tua dan kakak, adik (orang tua angkat), para pecintaku yang tentu selalu menjagaku dalam doa-doanya dan kepada kerabat-keluarga, handaitaulan, trimakasih juga kepada orang yang selalu memberi support dalam segala hal yang selalu mendoakan walau kadang menyakitinya dan semua sahabat dunia luar yang juga senantiasa memberi semangat walau hanya dalam tutur (ucap-sapa) lewat media sosial dan juga kepada semua pencinta tanpa nama; trimakasih banyak. Suka duka dalam ada dan hadirku adalah catatan-catatan yang memberi makna pada setiap lembaran yang menjadi buku kehidupanku; Semuanya adalah bagian dari sejarah yang tiada terlewatkan dalam lembaran-lembaran di buku hidupku selama setahun yang lewat.

Mohon maaf untuk semua salah dan khilaf dalam segala tugas dan tanggungjawab yang diberikan dimanapun berada; sehingga dengannya dapat membantuku menata diri menjadi lebih baik di hari-hari mendatang. Tegurlah aku bila salah dalam adaku; karena aku bukan siapa-siapa tanpa kalian. Karena kamu adalah aku yang berdiam dalam adamu dan menjadi cermin menata diri menjadi lebih baik dari hari ke hari.



Doamu; harapku. Kita saling mendoakan.

Rabu, 07 September 2022

Didepan pusaramu

 Pusara ini belum kering.

Juangmu seolah masih nyata

Dalam ada dan tiadamu.

Engkau yang kini terbaring dibalik pusara

Tentu bertanya;

Siapa aku disini?

Kemana mereka pergi?

Dalam juangmu tentu pula engkau bertanya;

Akankah aku kembali?

Disini,

Di makam ini

Engkau dibaringkan

Tanpa kata.

Kemarin mungkin sesengguk kata terucap lirih

Tapi tiada mengerti.

Sesengguk air terteguk melenyap dahaga harimu.

Kini di pembaringan ini

Engkau terlelap dalam tidur abadimu.

Apa yang ingin kau luapkan tiada terdengar.

Hanya sapa lewat lirik dan derai air mata yang tercurah sebagai ungkapan rasa.

Semua seperti tiada.

Hilang berganti dalam hari yang berubah.

Tapi yang nyata, 

namamu abadi dalam lubuk hati yang mengenalmu.

Engkau sebagai insan 

Yang pulang tanpa rasa.

Melepaskan diri dari genggaman bumi Weluli

Seolah engkau yatim piatu;

Tak berbapak, 

Tak beribu.

Tak punya saudara,

Tak punya saudari.

Tak punya segalanya.

Kaulah segalanya bagi kami.

Kaulah kami.

Didepan pusaramu;

Saudaramu,

Saudarimu,

Ponakmu,

Cucumu,

Segalamu ada dan hadir

Saksi sejarah

Kau berpulang bersama kami;

Kami adalah dirimu.

Engkau saudaraku,

Engkau kekasihku.

Didepan pusaramu,

Berdiri sekian kerabatmu

Menghantarmu dalam peluk abadi

Dalam rangkulan DIA

Sang pemilik

Engkau bukan pergi

Tetapi engkau pulang;

Kembali kepada DIA Sang Pemberi.

Terpujilah Tuhan Sang Pemberi.


Baba An Yi; doakan saudara-saudarimu dan kami semua.

Senin, 05 September 2022

In memoriam; Baba An Yi

Berpuluh tahun pergi seperti tiada.

Peluk hangat dada yang mendekapmu selalu mencari

Karena kau putranya.

Kedua Peluk jiwa itu pergi mendahuluimu

Karena darah yang mengalir enggan kembali seperti kering di kemarau panjang.

Berpuluh tahun itu seperti musafir

Mencari dan terus mencari

Hingga pada pulangnya engkau tiada.

Sepuluh tahun (ayahandamu; Martinus Mali)

tujuh tahun (Saudarimu: Martina Lilo)

dan empat tahun (Ibundamu: Ana Maria Bui);

pulang mereka seperti diam.

Ibarat musafir engkau melangkah

Ke mana dan di mana kakimu terhenti

Kau bertelut

Mencari asa, cita dan cinta.

Dua puluh empat Agustus 

pulangmu pada peluk bumi Weluli

Tempat dimana asalmu 

seperti tiada cinta menyambut.

Pulangmu hanya sebatas pamit

pada asal cinta yang merengkuh

Cinta tanpa kisah 

karena pulangmu hanya diam.

Cinta mereka adalah kuatmu

hingga engkau pulang 

Pada rahim sang Khalik.

Pulangmu menyayat dada

Sebelum kakakmu Mateus Mali pergi jauh, 

engkau menyusulnya.

Engkau butuh teman perjalanan

Mungkin engkau telah lupa 

pada rona yang dulu melahirkan,

Pada dia yang pernah mencintaimu

Sehingga engkau ingin beriringan dengan kakakmu Mateus.

Duka belumlah purna,

Engkau membuat basah lagi 

dengan air mata yang sama;

Air mata duka.


Pada rantau yang hening

Kugoreskan kisah mengenangmu; 

Berpulang pada peluk asal

Adalah rindumu 

untuk pulang ke keabadian.

Selamat jalan baba. 

Peluk cium untukmu baba An Yi.


Rindu pada Jumpamu dengan ayahandamu: Martinus Mali, 

dekap masa kecilmu terulang dengan ibundamu: Ana Maria Bui, 

belai mesramu pada saudarimu: Martina Li Lo, 

manjamu dengan saudaramu: Yohanes Bere A Kit  dan Yohanes Tuas;

 dan jumpa bersama keluarga semoga menjadi

pengobat rindumu di kebadian.


Pada tidur abadimu,

Doakan kami semua yang masih berziarah ini.


Peluk rindu teriring doa dari perantauan untukmu baba An Yi.

Senin, 22 Agustus 2022

SENJA ITU TERSAYAT

Terlukis kisah di senja hampir purna. 

Ia bagimu hanya seperti senja; 

Pada saatnya muncul 

pada waktunya juga menghilang.

Kisah senja itu menjadi catatan luka yang tergores

Mungkinkah senja berikut terulang? 

Atau hanya sebatas angan menjemput malam?

Senja yang pergi adalah bagian dirinya.

Banggamu menoreh luka

Senja tersayat seiring datangnya malam

Hingar bingar dan redup lampu jalan menghiasi tapak

menjadi warna setiap langkah yang lelah meraih senja. 

Padamu hanya bangga padanya 

karena terlalu dini di senja yang malang

padamu hanya impian meraih pagi 

yang akan teraih disaat masanya. 

Pergilah, 

raih pagimu bersama kebangaan

dialah lagumu yang selalu didendangkan di setiap masa

dialah yang akan di jumpai pada siang, petang dan malammu. 

Biarlah senja tersayat 

melebur dalam kelam malam tuk bersamamu raih bahagia 

pada pagi yang menjemput

Kenangan senja ini akan melebur bersama dingin kota dingin


Senja Bernyawa. 



Sabtu, 30 Juli 2022

Engkau syairku

Aku ingin menulis syair tentang dirimu, tentang kita. Tentang perjalanan dan jarak serta waktu. Namun tiada yang dapat ku tulis karena semua hanya kisah yang termakan waktu. Bait-bait dalam syairku hilang seiring perginya dirimu yang entah ke mana dan sampai kapan? Engkau adalah bagian dari syairku yang hilang.

Tentangmu syairku, kutulis syairku_._

Goresan diakhir Juli_*

*Vista WelLa*

Rabu, 30 Maret 2022

TRIMAKASIH MARET

Darimu aku berasal. Bersamamu aku melangkah. Merajut hari pada lembar hidup. Menyulamnya pada bingkai yang berhiaskan suka, duka, pahit dan getir tentang utuh riwayat sepanjang nafas yang masih terberi. 

Duka yang lewat kiranya engkau tinggalkan, dan bahagia yang kau beri jadi kekuatan untuk melangkah jauh pada kaki yang tatih, Susuri setiap aliran tanpa harus menolah lara yang terbawa arus edan zaman ini.

Simpuh  syukur padamu Maret, kau beri semua menjadi lukisan hidup yang indah. Meninggalkan dan ditinggalkan kau berikan untuk bijak dan akhirnya kuat dalam kebijakan. Kau hilangkan pada awalmu, dan kau bertahan juga pada akhirmu.

Tiada lagi padaku semua alasan tuk bahagia karena kau renggut semua kala kunikmatinya. Kau beri pahit yang sungguh dalam bahagia sejengkal, namun itu alasan aku bertahan sampai kini. Lemah kuatku kau ketahui. Dan KAU yang Maha; trimakasih untuk maret-MU. "....Jadilah kehendak-MU."

Selasa, 05 Oktober 2021

SEBATAS ADA YANG TIADA

Aku hanya sepasang mata yang melihat pada pulangmu sekalian ingin lepas dari kembalimu; pada sepeninggalmu, aku hanya sebatas ada yang tiada. Disini, pada cerita yang purna terkisah selaksa rasa pada indahnya malam sambil meneguk rindu yang usang pada pertemuan silam. 

Semua hadir bag menggenggam hangatnya kopi dalam angan yang merindu. Aku pergi hanya sendiri, yang kumiliki hanya kisah dan cerita pada pulangmu.

Rabu, 29 September 2021

MATINYA KEADILAN vs NURANI PEJABAT

Keluhan dari warga, bahkan seorang ibu harus bersembah sujud di depan para pejabat di kantor itu, tp hati nurani mereka tertutup bahkan mati. 

Di manakah hati nuranimu hai para pejabat ketika seorang ibu bersembah sujud dan merintih dihadapanmu? Bayangkanlah kalau dia adalah ibumu, dia adalah istrimu, dia adalah anakmu, dia adalah saudarimu. Namun beliau kalian melihatnya bag seonggok tanah yang tak pantas didengarkan, bahkan tiada satupun dari kalian mengulurkan tanganmu mengangkat dan mendudukkannya pada martabatnya sebagai seorang ibu. Haruskah ia terus bersembah sujud mengharapkan belaskasih dan perhatian darimu wahai para pejabat yang ada karena dia yang juga adalah wargamu? Yang adalah juga rakyatmu? Untuk siapakah engkau mengemban tugas itu? Atau hanya untuk kepentinganmu? Kepentingan kelompokmu? Bukannya anda kalian dipercayakan untuk menjalankan amanat rakyat?

Engkau yang duduk di singgasana itu adalah karena suaranya, suara rakyat yang mempercayakanmu untuk menjadi penyambung lidahnya ketika ia tak mampu bersuara ketika engkau dengan segala caramu mengambil hatinya untuk mendukung dan memilihmu dalam perhelatan demokrasi kala itu; tapi balasanmu ketika engkau seperti sekarang ini dan ia menghadapi persoalan seperti sekarang? Engkau bahkan mencuci tanganmu, dan melepaskannya seolah ia tiada punya harga diri dan martabat. Engkau telantarkan ketika ia memohon keadilan atas suami, anak dan saudara-saudaranya yang tanpa sebab ditahan selama sembilan puluh hari. Keadilanlah yang ia tuntut, tapi kalian seperti tiada punya nurani dan bahkan baginya keadilan itu tiada. 
Sudah tumpul dan matikah hati nuranimu? Sudah matikah rasamu?
Janganlah kau biarkan wargamu berkeluh tentang keadilan sambil bersembah sujud namun tiada kau perhatikan.

#Salam_Keadilan

#Bebaskan_21_warga

Senin, 17 Februari 2020

Masaku sirna..
Hitammu gelapkan hatiku
Samar terbayang wajah dikegelapan
aku dan jalanku telah tiada
aku ingin bebas
Mencari antara batas waktu.
Ingin kuukir namamu antara bintang-bintang
Karena disana aku kan selalu memandang
jika kau jauh..
jika kau tiada.
Aku ingin mencintaimu dengan caraku
aku ingin mencintaimu dengan cara sederhana.
Aku tak tahu harus bagaimana,
tapi aku akan tetap mencintaimu
sampai batas usiaku.
Aku tak mampu untuk hidup
Aku seperti tiada punya pikiran;
mengisinya dengan angin.
Aku dihanyutkan oleh perasaan hatimu
Ketika hanya padamu rasa itu ada
akupun ditakuti oleh perasaanku sendiri
aku takut kalau kau tak ada rasa.
Aku takut karena belum masanya,
Aku telah tiada;
dan aku akan menyesal kalau rasamu ada
ketika aku telah tiada.
Aku mau kau ada
aku ingin kau selalu ada
karena kau adalah bagian dari hariku.

Sabtu, 19 Maret 2016

TRIMAKASIH "MAMA", TRIMAKASIH UNTUKMU SEMUA

Pada waktu seorang anak lahir, dia teriak menangis, padahal bapa dan mama bersorak gembira, kakak dan adik bersorak gembira. Kita bertanya, kenapa anak yang baru lahir itu menangis? Dia merasa seperti terjun ke suatu dunia lain, dia merasa ada sinar, dia mendengar suara ribut, dia merasa badannya terletak pada tempat tidur yang amat asing baginya. Semua dunia di sekelilingnya amatlah asing. Kenapa asing? Karena sebelumnya, dia selama 9 bulan menikmati keteduhan dalam rahim mama, dia selama 9 bulan dibuai dalam rahim mama, tidak ada dunia yang lebih tentram daripada rahim mama. Dia dan mama ! Tak ada yang lain, hanya dia dan mama ! Dunianya adalah mama, tak ada yang lain. Maka ketika dia tiba-tiba terjun ke dunia ini, dia merasa seperti terbuang dari dunianya sendiri, dunia mama. Dia belum sadar bahwa di dunia baru ini adalah mama yang sama. Kalau tadi dia teduh dalam rahim mama, kini dia teduh dalam rangkulan mama. Lewat beberapa waktu dia mulai mengalami mama, kembali ke dunia yang sama, dunia mama. Hanya rangkulan mama, hanya ciuman mama, hanya napas mama. Di kota besar, anak, sejak bayi diserahkan kepada pembantu. Mama dan bapa pergi kerja cari uang. Akibatnya si bayi lebih kenal si pembantu daripada mama dan bapa. Kita disini lain, kita di kampung yang miskin dan sederhana ini, tidak kenal pembantu, tidak kenal kereta dorong. Yang kita kenal adalah pelukan mama, rangkulan mama, kehangatan napas mama, kehangatan kasih mama, kaka, adik, bapa. Di kota besar, kalau anak sakit, kalau anak jatuh dan lain-lain, langsung telpon dokter, langsung telpon ambulance, langsung bawa ke RS.
Di kampung, si anak langsung dirangkul mama, langsung digendong mama, mama merangkul anaknya dengan keras, si anak merasakan kehangatan tubuh mama. Dan umumnya anak menjadi tenang, hilang rasa sakitnya. Dia diam, tidak menangis lagi. Anak merasa sembuh. Sepintar apapun dokter itu, semodern manapun rumah sakit itu, tidak sama dengan kehangatan tubuh mama, kehangatan napas mama. Dalam rangkulan mama, tak ada lagi yang dicemaskan. Sekalipun mama barangkali buta huruf, mama tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Mama yang buta huruf sekalipun, dapat mendidik anaknya untuk menjadi orang, untuk menjadi tokoh masyarakat. Kita bertanya, darimana mama mendapat kemampuan yang luar biasa itu? Bagaimana mama dapat membaca arti tangisan banyinya?Kasih mama itu, tidak lain daripada pancaran sekeping kasih Tuhan kepada setiap kita. Kasih mama itu, hanyalah sepotong saja dari kasih Tuhan. Kasih mama itu, hanyalah gambaran saja dari kasih Tuhan terhadap kita. Kasih mama itu, hanyalah satu titik kecil saja dari kasih Tuhan terhadap kita. Kasih Tuhan atas kita, jauh lebih besar daripada kasih mama terhadap si anak. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana besarnya kasih Tuhan terhadap kita. Karena kasihNya kepada kita, Bapa Surgawi bahkan menyerahkan Putra Tunggal untuk menebus dosa kita, tebusan lewat Golgota, tebusan lewat salib yang hina. Kita patut bersyukur kepada Tuhan atas anugerah kehidupan ini. Kita bersyukur kartena Tuhan yang Mahabaik tetap memelihara dan menjaga hidup ini secara baik sehingga kita semua boleh merayakannya dalam satu suasana gembira dan penuh sukacita. Hidup ini adalah anugerah yang tidak kita rencanakan, tetapi telah ditata bagus oleh sang pencipta. Hidup juga adalh sebuah misteri yang tidask dapat dipahami oleh budi manusia, namun dihadapan Allah dia begitu mulia dan berharga dengan segala ciptaan yang lain. Anugerah ini dipelihara dan dijaga serta dilindungi sercara teratur dalam sebuah kandungan mama sembilan bulan lamanya. Dan mama mempunyai duka derita tersendiri dan hanya dia yang tahu karena mengalaminya sendiri. Kasih Tuhan dipancarkan lewat mama. Kasih mama pancaran kasih Tuhan. Kita tidak mampu membayangkan kasih Tuhan, tidak dapat membayangkan, apa yang disiapkan Tuhan bagi masa depan. Yang jelas Tuhan sudah siapkan mama. (NN)
Trimakasih untukmu semua; sahabatku, temanku, saudaraku, saudaraiku, orang tuaku dan semua saja yang menaruh perhatian, dukungan, doa dan cinta kepadaku.
Trimakasih kepada ibu yang bukan dari darahnya aku dilahirkan; ibu Serikat; SVD yang telah menjadi ibuku saat ini, konfraterku semua.
Trimakasih khusus juga untuk komunitas St. Paulus-Ledalero yang telah menerimaku selama ini, trimakasih untuk segala berkat dan pengalaman selama ini. Trimakasih buat para pendamping; P. Hubert, SVD, P. Agust, SVD, P. Bill, SVD, P. Lawrence, SVD, Ms. Joane dan semua yang menruh perhatian kepadaku selama keberadaanku di Ledalero. Trimakasih untuk Provinsi SVD Timor yang mempercayakan saya untuk mengambil kesempatan ini dalam belajar bahasa asing, Trimakasih juga untuk Provinsi SVD Ende dan Komunitas St. Paulus-Ledalero yang telah menerimaku.
Mohon Maaf atas segala salah dan khilaf yang ada.
Sampai jumpa lagi dilain kesempatan.
SHALLOM
TABE

Selasa, 19 Januari 2016

DICELA"H" ITU

Pada celah dahan itu tampak lelehan kata yang tak tersaji dalam deraian daun; terlihat menjadi seperti linglung pada ingatan akan masa itu, tiada mampu beri daya dengan segurat asa yang tertinggal. Dalam dekapan dahan, daun itu gugur sebelum musimnya. Tak tahan memandang pada sombong dunia yang mengikis dalam debu tapak-tapak kaku yang gontai. Dari sanalah jua hidup bermula, padanyalah akan bermati raga dalam mati rasa. Adegan hidup ini menghantarnya pada kaku dan kusam riwayat yang tergores dalam diam dan hening. Dalamnya adalah adamu dan dalamnya adaku, ada mereka; ada kita. Ada kita yang menjadikannya ada. Masalah. Ya masalah. Itulah yang ada dalam setiap tirai hidup yang berkepanjangan dalam nada dan masa. Dalam nada yang tak memperdengarkan bunyi atau suara namun dalam masa semua ada. Andai itu adalah aku maka aku tidak ingin itu menjadi kamu karena kita sama namun beda dalam pikir dan rasa. Rasa yang ada tidak seperti apa yang terasa ketika tiba masa untuk merasa namun janganlah berbangga karena masa tapi berharaplah akan masa karena akan ada masa yang slelau menghantui untuk merasakan apa yang dirasakan. Mendekapmu bagai dahan mendekap daun entah basah atau kering dia mendekap. Seribu wangi kau sulutkan bagai menyulut rokok pada bibir kusammu. Kibarkan asap pada neraca hidup yang tak juga seimbang. Kau lebih memilih untuk menjadi sebatang pizza pada rumput yang mongering; menjadikan semua bersemu karena melihatmu. Kau bagai pemimpi yang tak habis akal untuk terus bermimpi mencapai asamu. Walau kadang sirna karena elok harimu bersama asap hidup. Kepulannya menjauh dan semakin meniadakan rokok pada lintingnya. Kau sulut dia dengan tawa membahana dan membakar duri terhimpit derita. Derita yang tersembul karena gumpalan dan panah asap. Semua seperti lemah karena asapmu. Dan kau menjadi semakin angkuh karena asapmu semakin menutupi walau kadang tak juga ada percikan api yang kau sulutkan pada bibir yang menghimpit lintingan. Lintingan demi lintingan kau gulingkan dan sulut lagi. Tak terasa lintinganmu habis dan terbawa dalam segala mimpimu. Rona bibir tak kelihatan karena hitam asap menutupi merahmu. Raut mukamu mati laksana pesawat airasia yang hilang tertelan angkasa. Dari bibirmu yang merekah kau sulutkan lagi api demi raih impian dan puas hatimu. Tak kau sadarikah hal itu membuatnya mati bersama liur yang pahit? Memang hidup perlu kau maknai tetapi bukan dengan menyulut api itu. Api yang kau sulutkan itu bukan menjadi asa tetapi menjadi boomerang yang tak kunjung dating sebelum masanya. Pada masanya akan datang itu sebagai senjata yang mematikan naluri dan asamu yang kau gantungkan selama api masih berpijar dan akhirnya mati pada himpitan bibirmu. Jangalah jua ingin menyulut lagi api itu. Sulutlah api yang tak kunjung legang oleh waktu; tak kunjung mati oleh basah bibir dalam ucap dan kata; Yang member makna pada kasih sejati yang ada dalam adamu, adanya, adaku dan ada kita.
Kitab dan gulungan telah ada. Manakala engaku membukanya, engkau tahu isi kitab itu. Apa yang ada adalah isi darinya; Begitupun hidupmu. Ketika engkau membukanya bagi orang lain maka itulah yang akan diketahui oleh orang lain tentangmu, tentang siapa dirimu. Karenanya, janganlah engkau biarkan hidupmu dibuka demi kebahagiaan sesaat tetapi bukalah hidupmu dalam setiap ada dan tiadamu. Ketika engkau membukanya, maka semua akan seperti kemarau tahun ini. Panas tiada berujung, dalam penantian setitik air walau seperti dalam oase; namun cukuplah beri harapan untuk hidup lebih bermakna. Celah hidup pada titian ini sangatlah sulit untuk di telusuri. Begitupun perjalanan kita; Ada suka, ada duka, ada canda-tawa; semua menjadi satu harmoni dalam hidup yang menjadikan hidup lebih berwarna dan bermakna. Dan semuanya memberi warna pada ziarah dan persinggahan kita pada bumi dan masa yang kian tak bersahabat. Kita menjadi kuat, manakala kita bersatu dalam ikatan cinta murni DiA yang memanggil setiap kita dari masa ke masa. Hiduplah seturut apa yang menjadi prinsip, bukan karena sebuah pencarian tanpa dasar.

Kamis, 31 Desember 2015

BERISTRI DAN MEMILIKI BANYAK ANAK

Setelah berkisah tentang kesibukkan dan kegiatan diakhir tahun ini dengannya walau hanya via telpon, aku sejenak meluangkan waktu ke Taman Kota. Perjalananku ditengah hiruk pikuk Kota sambil memperhatikan segala aktifitas yang dilakukan oleh kebanyakan orang yang hilir mudik didepanku. Segala kesibukkan yang dilakukan diakhir tahun ini membuatku sejenak merenung dan bertanya diri; “untuk apa harus sibuk dengan yang akan pergi, untuk apa juga menyibukkan diri dengan yang akan datang? Tohh akan dilewati dan akan menjadi kenangan, dan yang akan datang akan diterima dan dijalani”. Memang “iya” karena semua yang ada dan pernah ada akan lewat. Namun; apakah harus sibuk dengannya? Dengan semua yang ada? Menikmati yang lewat dan yang akan datang, mungkin lebih baik. Apapun situasinya, apapun kondisinya, apapun persoalannya, suka ataupun duka; DINIKMATI SAJA. Dan ketika merenung seperti ini, datanglah dua orang remaja putri; berperawakan menarik dan masih sangat muda duduk bersebelahan denganku. Tentunya tempat umum seperti ini menjadi salah satu tempat persinggahan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para remaja untuk mengakhiri hari terakhir di tahun ini.
Dengan udara Taman Kota yang cukup sejuk, membuatku kembali dengan sepenggal tanya yang sempat muncul dalam pikiranku tadi. Namun tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara dari salah satu dari kedua remaja putri itu. “Sendirian om?” “Iya, tante. Berdua ya?”; Jawabku. Merasa lucu dengan jawabanku (dengan sapaan tante; walau mereka masih remaja), kedua remaja itu cengar cengir. Dan bertanya lagi padaku: “mmmm sudah berkeluarga ya?” “Iya, sudah. Jawabku. mana pasangannya om?” “Ada tu, di rumah. Kami dikaruniai banyak sekali anak sehingga beliau tidak dapat meninggalkan yang masih kecil. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan kami setiap hari saja kami harus berjalan dari kota ini ke kota seberang untuk menjual sedikit hasil yang diperoleh dari menggarap lahan orang; jawabku. “Napa tidak diajak jalan-jalan?”; tanyanya lagi. Kalau jalan, takutnya urusan dirumah tidak beres. Sementara anak kami yang berumur dua tahun satu bulan satu hari; hari ini, harus selalu dijaga karena selalu rewel kalau tidak diperhatikan. Tanpa disadari waktu menunjukkan pukul 12:00, dan dengan sedikit alasan, akupun segera meninggalkan Kawasan Taman Kota itu. Ketika akan melangkahkan kaki meningglkan kedua gadis itu, salah satu gadis yang hanya diam sejak percakapan itu menanyakan namaku dan identitasku yang lain. Sejenak aku berhenti memberitahukan nama dan identitasku yang ditanyakan dan si gadis memberitahukan namanya, tetapi gadis yang satu tersipu malu setelah diberitahukan tentang yang sebenarnya. Kataku kepadanya: “Santai saja ad... Memang seperti itu, kita belum pernah saling jumpa , tentu juga kita belum saling kenal.”
“Maaf ya kak, saya tidak tahu”; Jawabnya. “Iya, tidak apa-apa ad. Trimakasih untuk hari ini, trimakasih untuk 2015. Selamat Natal ya ad, dan selamat menyongsong tahun baru; 2016; Kataku lagi.
“Iya, selamat Natal dan Tahun Baru juga buat kak, dan salam buat semua disana.”: Jawab mereka hampir bersamaan. “OK, trimakasih ad. salamnya akan disampaikan.”
Sampai jumpa lagi.

Minggu, 27 Desember 2015

2015

Hari adalah rahasia yang tidak pernah diketahui oleh manusia tentang apa yang akan terjadi didalamnya. Hari bahkan terkadang membuat manusia ragu untuk melangkah didalamnya. Tapi jika doa menjadi awal untuk menyambut hari, maka kekwatiran menjadi akhir sebelum hari dimulai. Bersandarlah pada Tuhan disetiap perjuanganmu dalam menempuh hari-harimu dan ingatlah bahwa Tuhan akan selalu memperhitungkan setiap jerih lelahmu dalam mengerjakan pekerjaan di dalam DIA.
Dalam perjalanan dan ziarah ini, mungkin pernah terluka dan melukai, tapi karena itu kita dapat belajar tentang bagaimana menghargai, menerima, berkorban, dan mempertahankan. Mungkin pernah membohongi dan dibohongi, tapi dari itu kita dapat belajar tentang kejujuran. Andaikan kita tak pernah melakukan suatu kesalahan dalam hidup ini, mungkin kita tak akan dapat belajar tentang arti dari meminta dan memberikan ma’af. Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini, baik yang diisi dengan keburukkan, maupun dengan kebaikkan, sungguh tak akan terulang kembali, namun ada satu hal yang tetap dapat kita lakukan, yaitu: terus belajar dari masa lalu untuk hari esok yang lebih baik. Tidak perlu memikirkan baik, buruk dari apa yang kita lewati, tetapi bagaimana yang telah kita lewati dapat menjadikan kita lebih dewasa.
Ditebing waktu 2015, ketika kita menatap mentari; mintalah padanya amanat kebijaksanaan untuk memberi kasih tanpa pamrih. Ditepi rentetan luka hidupmu, ketika kita menatap embun pagi, mintalah padanya belaian dan kesegaran hidup tanpa henti. Jangan pernah malu pada mentari, begitupun pada embun. Tersenyumlah selalu pada mereka karena mereka adalah pelabuhan nan damai, tempat sang inspirasi kehidupan bersandar
Di penghujung Dua ribu lima belas (2015), ada banyak kisah juga banyak cerita;
Kisah dan cerita tentang: cinta, persahabatan. Ada canda, tawa; suka, tangis; duka. Dua ribu lima belas (2015), bukanlah sekadar judul sebuah lagu, tetapi lagu tentang kehidupan; bukan judul sinetron; namun di dalamnya ada peran kehidupan. Dua ribu lima belas (2015) adalah saksi dalam perjalanan hidup.
Dari hari kehari, minggu ke minggu, bulan ke bulan dan Dua ribu lima belas (2015) akan berganti. Dua ribu lima belas (2015) mengajari kita banyak hal,
Mengajari kita untuk memulai sesuatu. Biarkan kenangan dihari ini menjadi cerita dihari esok, karena esoka akan ada cerita yang baru, dan biarkan cerita dihari esok menjadi tantangan yang penuh dengan misteri yang harus diperjuangkan agar dapat dan dimampukan untuk melewatinya dengan baik.
Trimakasih Tuhan; Trimakasih buatmu orang tua, nenek. saudara/saudari, sahabat, teman dan pencinta tanpa nama yang tercinta; atas segala kebersamaan sepanjang Dua ribu lima belas (2015). Dalam beberapa hari yang tersisa di tahun Dua ribu lima belas (2015) ini. Lembaran Dua ribu lima belas (2015) ini akan ditutup. Sebelum masa ini berakhir; ku ingin menyampaikan satu hal yang kita semua tahu: “Jika ada salah, tulislah diatas debu, biar hilang ditiup angin, dan ukirlah maafku dikalbu hatimu agar tak hilang dihempas badai”.
Dua ribu enam belas (2016)... kutunggu hadirmu.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Angka dan Kejujuran

 Agustus, bulan yang sungguh menegangkan. Dalam penantian itu kita berjalan. Jejaki masa dalam keberadaan kita. Bulan yang penuh makna. Bulan dimana kebenaran tentang kita dinyatakan, juga bulan ketulusan dimurnikan. Di Kota itu kita berjalan, tapaki hari dalam hening. Kemurnian itu diuji dan memang teruji dengan berargumen sudah tiada tentang suatu hitungan; angka. Ya “angka”, angka yang menentukan. Angka antara tanggal dan sejenisnya. Angka itu terpampang dalam kelabunya hati. Sangkakan angka itu telah tiada, itulah sebuah narasi tentang angka. Diam menjadi jalan menentukan angka. Tahun ini di bulan yang sama, pada suatu fase yang serupa angka yang sama menyatakan diri lagi, narasi itu terkuak bukan sebagai kalimat, tetapi sebagai kata. Kata yang menanyakan, juga kata yang bertanya tentang angka. Dimana? Diantara dua ada satu; lalu di kali dua dan ditambahkan dua membulatkan angka, menuju satu kesempurnaan. Itulah akhir dari angka itu.

Angka itu misteri, misteri hati. Yang hanya dapat dijawab dengan: Kejujuran dan ketulusan.

SEJENAK TURUN

Perjalanan dalam ziarah ini memampukan kita untuk melihat banyak hal; baik sikap bathin, kepribadian maupun kualitas-kualitas dalam diri. Setiap kita memiliki semuanya itu dalam masalah, masa lalu, masa kini dan masa depan. Penemuan-penemuan itu lewat berbagai macam cara, lewat simbol-simbol dan semuanya tidak terlepas dari refleksi. Tanpa sebuah refleksi terhadap hal-hal itu maka kita tidak menemukan semuanya itu. Refleksi membuat kita semkin dekat dengan diri dan juga dengan sesama. Banyak waktu untuk kita melihat semuanya itu, waktu untuk sedapat mungkin masuk kedalam ruang hati kita; rumah diri kita.
Disana kita akan menemukan hakekat diri yang sesungguhnya. Hanya dalam keheningan dan refleksi kita menemukannya. dalam refleksi, kita menemukan diri; baik secara perorangan juga kita merefleksikannya bersama dalam suatu kelompok tentang hidup dan kehidupan yang sudah, sedang dan akan kita lewati. Sejauh mana kita mengenal diri kita, tentulah masing-masing kita akan menemukannya dalam setiap pergumulan dengan diri lewat setiap refleksi dan pemberian arti terhadap simbol yang dijumpai dalam permenungan/refleksi itu. Didalamnya kita diajak untuk masuk lebih jauh kedalam diri dan melihat kemanusiawian diri kita. Dengannya kita dihantar untuk mengenal dan mengetahui diri sebelum kita mengenal dan mengetahui orang lain.
Banyak orang mampu untuk berkeliling kemana saja, tetapi sedikit saja yang mampu untuk masuk ke antariksa hati. Sedikit tentang hal ini ada yang memberikan nama untuk tahap-tahap yang dilewati, seperti sebuah sekolah/perguruan. Misalnya: SPK (Sekolah Pemuridan Kristus); kita diajak untuk mengenal diri sehingga menjadi murid/orang yang baik, dan dengan SPK kita melewati sebuah Universitas yang sangat besar dalam hidup, yang apabila tidak mampu melewatinya maka akan menjerumuskan diri bahkan orang lain kedalam hal yang tidak diinginkan; itulah Universitas Kesulitan. Namun SPK memampukan kita untuk melwati Universitas itu karena kita sudah disiapkan dan menyiapkan diri memasuki Universitas itu. Semuanya itu kita lewati juga melalui SPG (Sekolah Padang Gurun); dengan SPG kita mampu melihat hal-hal dalam diri; baik hal yang positif maupun hal negatif. Disini (SPG) kita dicobai untuk masuk kedalam diri.
Mengenal lebih dekat siapa diri kita dengan menggunakan metode pertanyaan penuntun bagi diri: Siapa diri saya? Bagaimana diri saya? Mengapa diri saya? Dimana diri saya? Kapan diri saya?; dan Apa diri saya? Dengan pertanyaan-pertanyaan terhadap diri ini kita berusaha untuk mengenal diri dan akhirnya kita juga dimapukan untuk memahami diri untuk terus bertumbuh dan berkembang dalam setiap proses hidup dalamm relasi-relasi, kegiatan dan situasi yang kita lewati dalam hidup, baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain dimanapun kita berada.

Sabtu, 27 Juni 2015

HANYA KATA

Waktu menuntun
menghantar aku pada senja itu
setelah sekian lama tak bersua
walau sesaat kita ada
namun pernah menjadi bagian itu
pada lembaran masa.
Senja itu
kisah tertoreh 
pada lembaran kusam
abadikan masa itu
kenangan disaat bersama.
Ada kisah disana
cerita tentang kita; REMATH.
Senja itu hampir berlalu
namun dimana kisah bermula?
Aku mengenalmu
tapi tak mengingatmu.
Semua hanya "kata"
kata sang kata
karena dalam kata ada aku
ada kamu, ada dia
ada mereka, ada kita.
Dalam kata; ada kisah.

Minggu, 07 Juni 2015

CATATAN SENJA

Pada riak senja ini
sejenak bertutur krama;
meniti hidup ini bagai menimba embun,
perlahan dan penuh perjuangan 
mendapatkan butir-butir air
pada pinggir dedaunan.
Menapaki setiap tapak dan liku
menjejaki tapak demi tapak
walau berliku,
perjuangan adalah jalan.
Pada suatu titik butuh lepas penat
namun berlelah payah tiada guna
karena Dia telah tetapkan tapak sesungguhnya.
Terkadang tiada sadar berkeluh
mengeluhkan jalan tiada mulus.
Bahagia adalah impian
namun mengapa bahaya menyapa?
Bukankah Dia selalu ada?
Bukankah Dia andalan?
Apalagi yang dicari?
Hidup kita telah rela
namun; dimanakah kerelaan itu?
Memberikan diri tiada mungkin
adakah sesuatu yang lebih intim?
Dalam Dia-lah kita bersua
namun mengapa ada dia?
Tutur bijakmu menguatkan
namun kata bijakmu menyayat.
Kesal sudah mendarah
sakit telah mendaging.
aksara dilafalkan
namun tiada mampu mengubah
karena itu jalan dan pilihanmu.
Padaku hanya ada maaf
aksara ini tak mampu ukir hasrat
karena diujung senja ini kuukir kisahku.

Kamis, 19 Maret 2015

DIRIKU BUKAN KEADAANKU, TETAPI KEPRIBADIANKU

Terimakasih Tuhan untuk anugerah hidup yang Engkau limpahkan keatas hamba-Mu ini. Engkau menjadikan semuanya menjadi indah dengan kehadiran orang tua (Bapak-mama), Kakek Martinus Mali (alm) dan nenek Ana Maria Bui, saudara-saudariku, adik-kakak, sanak keluarga, teman dan para sahabatku tercinta. Tanpa mereka saya tidak dapat menjadi diriku sendiri. Kehadiran mereka menjadi penopangku dalam setiap derap langkah dijalan yang sedang saya jalani.
Terimakasih buatmu semua yang telah dengan caranya masing-masing mendoakan saya dihari berahmat ini; baik yang secara langsung mendoakan maupun melalui perantaraan-perantaraan. Kiranya Dia Yang Maha Kuasa membalas semuanya bagiku kepadamu sekalian. Mohon maaf bila selama kehadiran saya diantaramu sekalian, baik yang hidup bersama maupun melalui jejaring ini telah meninggalkan luka, sakit hati, kesal dan kecewa. Maafmu adalah rahmat bagiku, dendammu adalah api. Semoga itu tidak menjadi alasan untuk menjadi lebih baik dalam menjalin persaudaraan dan persahabatan, karena itupun menjadi bunga-bunga yang mewarnai hidup dalam berelasi dengan siapa saja tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Minggu, 22 Februari 2015

Di Kota Kecilku-Weluli
Tempat yang indah dimusim hujan.






Jembatan Baukama

Jumat, 20 Februari 2015

BENIH DAN KE-AKU-AN

Tuhan, mengapa aku terlahir seperti ini
Mengapa aku yang lemah ini
Kau biarkan untuk menderita?
Ku coba tersenyum namun hampa hatiku
Kuingin pergi saja
Mengapa Engkau tak membawaku
Mengapa aku harus terus jalani semua ini
sementara aku Kau sapa dijalan-Mu?
Hidup dalam senyuman yang pahit dan hampa…
Haruskah aku terus seperti ini?
Haruskah aku terus berpura-pura?
Tertawa dalam kekosongan
Tuhan ku ya Allahku
Siapakah aku ini sesungguhnya
Hingga aku terus menderita
dengan penderitaan yang tak mau berakhir?
Bawa aku Tuhan….
Ku tak ingin terus hidup seperti ini
Menangis sudah tak sanggup
menanti aku lemah
ku tak sanggup lagi ya Tuhanku..
Sampai kapan ku alami semua ini?
Benih itu jatuh terkulai..
Ia terseret peluh keegoan..
bahkan mati termakan debu.
Benih itu adalah hidup
hidup yang disia-siakan
semua karena angan dan ilusi.
Namun ampunku ya Tuhan..
semoga Dikau Yang Maha Tahu
mendengar jeritan hamba-Mu
bersama benih pada debu yang telah lenyap
jangan biarkan debu menjadi bagiannya
tetapi angkatlah ke pangkuan-Mu yang Kudus
buatlah dia berarti bagi-Mu.
Andai saja waktu dapat ku hentikan
Aku tak ingin terlahir ke dunia
Aku tak ingin mengenal arti semuanya
Aku tak ingin mengenalnya
Sedih hatiku ini memikirkannya
Namun hidupku terus berjalan.
Tuhan.... Sujudku pada benih
ampun ku pinta dari-Mu
demi benih dan hidup
yang telah menjadi debu
pada ke-aku-an ku dan ke-aku-annya. 

Senin, 08 September 2014

BERJALAN DALAM MASA

Seratus tiga puluh Sembilan tahun (139 thn) sejak keberadaannya di tengah umat, SVD telah banyak memberikan warna tersendiri bagi karya pewartaan Kerjaan Allah teristimewa di daerah-daerah yang belum tersentuh oleh Injil Yesus, Sang Sabda Ilahi. Seratus satu tahun (101 thn) yang lalu SVD sampai pula di tanah air Indonesia dalam mewartakan Sang sabda; dan keberadaannya di Indonesia seabad lebih ini telah membawa pula suatu masa dan perubahan dalam hampir semua aspek kehidupan menyangkut hidup dan kehidupan bangsa dan anak bangsa ini teristimewa daerah dan mereka yang tersentuh oleh para missionaris di bumi pertiwi. Dewasa ini, para missionaris Serikat Sabda Allah telah memberikan sesuatu kepada setiap kita, setiap daerah dimana para missionaris SVD berkarya. Dalam karya, misi serta pelayanannya ini SVD tidak berjalan sendiri, tetapi didukung oleh setiap kita baik dengan doa-doa, perhatian dan kepedulian terhadap misi penyelamatan manusia dari kuasa kegelapan dosa dan kebutaan kita akan Kasih dan Cinta Tuhan dalam Sabda-Nya yang tertuang dalam Injil Suci.
Serikat Sabda Allah (SVD) sejagad merayakan ulang tahunnya yang ke 139 tahun berkarya dan 101 tahun berkarya di Indonesia. Patutlah kita turut berbahagia dan bersykur kepada Tuhan, karena atas penyelenggaraan-Nya lah SVD tetap eksis dalam mewartakan Sang Sabda.
Selamat Ulang Tahun Serikat Sabda Allah, dan selamat untuk semua anggota Serikat Sabda Allah dimanapun berada.

Allah Roh Kudus, kami bersukacita hari ini mengingat peristiwa Pentekosta pertama, ketika Engkau turun atas para Rasul dan Bunda Maria. Engkau membimbing gereja ke tengah dunia untuk memulai misi apostoliknya dengan penuh sukacita. Sebagai pembimbing tak kelihatan, Engkau telah membentuk dan melahirkan Serikat Sabda Allah. Engkau selalu mendampinginya, memenuhinya dengan rahmat sehingga bertumbuh subur dan menghasilkan buah dalam kebun anggur Tuhan. Penyelenggaraan cinta sejati-Mu, memungkinkan kami menjadi anggota Serikat, untuk menjadi pengikut-pengikut Kristus. Sebagaimana para Rasul, kamipun mempersembahkan seluruh hidup untuk mewartakan Injil. Terimakasih untuk anugerah sebesar ini. Kami ingin memperbaharui persembahan diri kami. Segala yang ada pada kami adalah anugerah cinta-Mu semata. Kami mempersembahkan semuanya kembali kepada-Mu. Jadikanlah kami milik-Mu selamanya. Allah Roh Kudus, kami mohon perlindungan-Mu bagi Serikat Sabda Allah. Peliharalah semangat kami untuk mempersembahkan diri, dan kuatkanlah gelora semangat kerasulan kami. Terangilah dan kuatkanlah para pemimpin kami, untuk melaksanakan tugas dengan baik dan bijaksana seturut kehendak-Mu. Berkatilah semua karya missioner para Imam, Bruder, Guru dan siswa kami. Dengan rahmat-Mu, gerakkanlah hati para penderma dan misionaris awam, untuk membantu karya pewartaan Injil di seluruh dunia. Jagalah mereka selalu dalam segala karyanya dan teguhkanlah iman mereka kepada-Mu. Dalam segala yang kami lakukan, jadikanlah kami hamba yang siap sedia bagi sabda Allah, senantiasa bertumbuh dalam iman, harapan dan cinta, selalu diteguhkan oleh kekuatan tujuh kurnia-Mu, semakin bersatu erat dalam persaudaraan sejati, agar usaha-usaha kami dapat dilaksanakan dengan bijaksana demi pembangunan dan pengembangan kerajaan Allah di seluruh dunia. Allah Roh Kudus, sebagaimana yang dijanjikan, Engkau datang ke dunia sebagai penolong untuk melanjutkan dan meneguhkann karya Kristus, penyelamat kami. Kurniakanlah kami rahmat ini: selalu percaya kepada-Mu dan menjadi sarana yang senantiasa berguna karena limpahan daya rahmat-Mu untuk menghasilkann buah demi kebesaran kemuliaan kerajaan Allah kami. Kemuliaan dan hormat bagi-Mu selama-lamanya. Amin (Vad. SVD 106.1)

Dihadapan Terang Sabda Allah dan Roh Pemberi Karunia, lenyaplah kebutaan manusia tak beriman; dan semoga Hati Yesus hidup dalam hati semua manusia. Amin

Rabu, 05 Februari 2014

AKU ADA DISINI

Hasrat ini merindu..
merindu ketika jemari tangan tak bersentuhan,
merindu ketika bola mata tak menyatu dalam satu tatapan
merindu ketika satu tulisan menggantikan hadirmu
merindu ketika kesetiaan
terasa menjadi satu perjuangan
untuk dapat tetap berada di sini dalam Cinta.
Aku ada di sini
untuk terus menjadi cinta
dan mencintaimu.
Ingin ku paparkan pada langit satu tulisan tentang kita
agar keindahan bisa terlihat jelas
tetapi biarlah...
aku telah memilih hatimu untuk menuliskan penaku
tentang cinta yang tak termakan oleh jarak dan waktu
Aku ada di sini...
untuk menjadi setia
Setia menari di atas awan-awan rindu
mengisikan waktu untuk terus menikmati hadirmu
Tak ingin pergi
walau mendung akan mendatangkan guntur dan hujan
Aku ada di sini..
untuk bahagiamu
cintailah aku seperti aku mencintaimu
walau hujan badai mendapati kita di perjalanan ini
Jangan berlari menjauh
untuk berteduh di bawah atap hati yang lain
aku telah membuat atap kasih sayang untuk kita;
di hatiku”.

Minggu, 19 Januari 2014

TERBUNGKAM DALAM CERITA

Menagih pada bulan
akan cakrawala malam yang karam
rapi oleh jutaan bintang
mengapa ia setia di sana
di setiap malam-malamnya?
Sesekali hasrat memaksa bintang-bintang
untuk memberi satu jawaban pasti
mengapa ia begitu indah di penghujung mata?
sering bermain angan menjebaki realita kehidupan..
tetapi terasa tertangkap pada satu kenyataan yang tepat
untuk tidak berkomitmen banyak,
atau harus mencari alasan untuk membenarkan diri
karena sesungguhnya
semuanya di ciptakan untuk menjadi pelengkap
bukan menjadi milik seorangpun.
Terbungkam karena penghujung ceritera itu
bagai menatap kosong pada kenyataan
atau impian terbentur pergumulan
perlahan hilang di pagi yg baru
ibarat embun pagi di terpa cahya mentari.
Tertegun menyemangati jiwa
merapikan pikiran untuk tidak berlari
mengejar bayangan semu
berdiri dengan kaki pada titik kepastian
walau hati mengajak aku untuk menangis dikedalaman.
Tidak!!!!
Aku ingin berhenti di sini..
pada titik yang ku gariskan..
tak peduli berapa kali lagi deretan kata
mengucapkan salam.
Yang pasti mentari tetap di atas langitku
menuntun ceritera pada setiap putaran rotasinya.
Ceritera....
terbungkam aku di dalammu
bukan berarti aku kalah
di dalammu ku paparkan lembaran baru
tentang terang di tengah malam.

Selasa, 29 Oktober 2013

TERTAWA DALAM KEBOHONGAN HATI


“Walau ekorku putih,
tetapi masih saja ada nodanya”
terkungkung masa lalu
membuat jelas nodanya.
Kepicikan duniamu
membawamu larut didalamnya
mereka tidak tahu
hidup yang sesungguhnya dijalani.
Sakit terasa mengobati luka lama yang ada
tetapi sesakit apapun itu
haruslah diobati.
Larut dalam kelamnya masa lalu,
membunuh orang yang menyayangi kita.
Bersamamu aku kenang
masa kelam yang telah kusam,
hatimu telah terrtutup pintu untuk setiap mereka.
Katamu; “engkau lelah mengikuti kata hatimu,
ingin pergi menemui ibu
agar tak ada lagi air mata
yang membuat sedih ayahmu,
kamu tidak tahu rasanya dihina”.
Katamu pula; “jangan sayangi aku lebih dari apapun,
karena aku tak ingin menodai rasa itu.
Cerita ini hanya aku yang rasa
kisah ini hanya satu yang tahu
keluarga tidak ada yang tahu apa yang kurasakan”.
Katamu; “itu hanyalah share antara aku dan kau”.
Akhir kisahmu engkau berkata;
“Aku tak mau besok mataku bengkak karena menangis,
maafkan aku bila belum dapat menyayangi kamu
seperti rasa sayang kamu ke aku”.
Menyadarinya;
bahwa mengenalmu adalah bagian dari hidup.
Dalam perjumpaan itu
aku merasa telah menjadi sahabat dalam perjalanan..
menjadi sahabat yang dapat memberi
dan menghargai kebebasan sahabatnya.
Semoga persahabatan itu abadi
bersama sang waktu.
Berani melepaskan
karena itu konsekuensi dari "Mencintai",
ada luka, kecewa, marah,
tetapi semua itu tidak ada artinya
jika lilin panggilan
yang Tuhan nyalakan di tungku hati padam
karena hasrat cinta manusiawi.
Lihat embun di pagi hari..
dia setia di setiap pagi..
begitupun juga cara Tuhan
yang tidak pernah lupa
bahwa kita rapuh..
buatlah apa yang menurut diri mampu...
yang tersisa biarkan Tuhan yang melakukannya untukmu..
tiada kata putus asa..
Setiap kita mempunyai masa lalu, masalah, dan masa depan.
Raihlah masa depanmu dengan menjadikan masa lalu,
dan masalah sebagai pijakan untuk melangkah
meraih masa depan.
berjuanglah untuk keluar dari kemelut hati.
Dengan kemauan yang kuat,
kamu pasti dapat melihat keindahan-keindahan baru.

TERTAWA DALAM KEBOHONGAN HATI

Kisahmu ibarat pepatah;
“Walau ekorku putih,
tetapi masih saja ada nodanya”
terkungkung masa lalu
membuat jelas nodanya.
Kepicikan duniamu
membawamu larut didalamnya
mereka tidak tahu
hidup yang sesungguhnya dijalani.
Sakit terasa mengobati luka lama yang ada
tetapi sesakit apapun itu
haruslah diobati.
Larut dalam kelamnya masa lalu,
membunuh orang yang menyayangi kita.
Bersamamu aku kenang
masa kelam yang telah kusam,
hatimu telah terrtutup pintu untuk setiap mereka.
Katamu; “engkau lelah mengikuti kata hatimu,
ingin pergi menemui ibu
agar tak ada lagi air mata
yang membuat sedih ayahmu,
kamu tidak tahu rasanya dihina”.
Katamu pula; “jangan sayangi aku lebih dari apapun,
karena aku tak ingin menodai rasa itu.
Cerita ini hanya aku yang rasa
kisah ini hanya satu yang tahu
keluarga tidak ada yang tahu apa yang kurasakan”.
Katamu; “itu hanyalah share antara aku dan kau”.
Akhir kisahmu engkau berkata;
“Aku tak mau besok mataku bengkak karena menangis,
maafkan aku bila belum dapat menyayangi kamu
seperti rasa sayang kamu ke aku”.
Menyadarinya;
bahwa mengenalmu adalah bagian dari hidup.
Dalam perjumpaan itu
aku merasa telah menjadi sahabat dalam perjalanan..
menjadi sahabat yang dapat memberi
dan menghargai kebebasan sahabatnya.
Semoga persahabatan itu abadi
bersama sang waktu.
Berani melepaskan
karena itu konsekuensi dari "Mencintai",
ada luka, kecewa, marah,
tetapi semua itu tidak ada artinya
jika lilin panggilan
yang Tuhan nyalakan di tungku hati padam
karena hasrat cinta manusiawi.
Lihat embun di pagi hari..
dia setia di setiap pagi..
begitupun juga cara Tuhan
yang tidak pernah lupa
bahwa kita rapuh..
buatlah apa yang menurut diri mampu...
yang tersisa biarkan Tuhan yang melakukannya untukmu..
tiada kata putus asa..
Setiap kita mempunyai masa lalu, masalah, dan masa depan.
Raihlah masa depanmu dengan menjadikan masa lalu,
dan masalah sebagai pijakan untuk melangkah
meraih masa depan.
berjuanglah untuk keluar dari kemelut hati.
Dengan kemauan yang kuat,
kamu pasti dapat melihat keindahan-keindahan baru.