Dalam sebuah perjalanan ke kampong sebelah, aku berjalan menyusuri sunyi desaku. Ketika menempuh perjalan sekian jauh, dahagaku mengusik. Sejenak aku tertegun, memandang kearah sekelilingku apakah ada sesuatu yang dapat kujadikan sebagai penghilang dahagaku, namun tidak juga aku menemukan yang kucari.
Dengan sedikit menahan dahaga yang ada, aku kembali melanjutkan perjalananku yang masih cukup jauh. Kini tibalah saatnya aku mendaki perbukitan, dan dalam hati aku bergumam: “akankah aku sampai pada puncak dengan keadaan seperti ini?” Haus tak tertahankan.
Dengan sisa tenaga yang ada, sampailah aku pada puncak yang awalnya mencemaskanku; berjalan menyusuri panasnya kerikil tajam, membelah wadas kokoh tua di padang itu. Dahagaku makin menjadi. Aku berusaha untuk segera sampai pada tempat tujuanku.
Dalam langkah yang sedikit lelah, aku melihat hamparan kaktus, anmun tak satupun yang terlihat sedang berbuah. Aku mencoba mendekati sepohon yang cukup besar dan tinggi. Di balik sebuah dahannya, ada pengharapan, dahaga akan dibebaskan.
Aku segera mengambil sebatang kayu untuk kugunakan sebagai penjolok. Dengan sedikit sentuhan saja, aku segera mendapatkan buah kaktus dengan ukuran yang cukup besar. Walau dengan sedikit usaha untuk mendapatkannya karena harus menghindari duri-durinya.
Sejenaka aku bingung, karrena bagiku adalah suatu kejanggalan untuk segera mencicipinya. Pertama-tama aku harus mengambil duri pada buahnya, bulubuah yang ada, kulitnya dan seterusnya hingga akhirnya aku dapatkan isi dalamnya.
Bagi mereka yang awam dengan buah ini, tentu pekerjaan ini adalah tidak masuk akal, hanya dapat dikonsumsi binatang atau burung-burung. Namun bagi mereka yang sudah pernah atau sering mengkonsumsinya, tentu kaktus dengan rasanya yang khas akan memberikan suatu kesegaran. Kesegaran yang diberikan buah kaktus sungguh sangat luar biasa. Kini aku dapat melanjutkan perjalananku dengan kesegaran yng ku peroleh dari buah kaktus, buah dari padang tersebut.
Sepanjang perjalanan aku merenung tentang pengalaman yang baru saja aku alami. Kaktus; pohon yang hanya dapat tumbuh dengan tanpa perwatan dari manusia, yang tumbuh di padang, pohon yang berduri, berbulu dan gatal memberikan kesegaran dengan rasanya yang khas.
Kaktus dapat diibaratkan dengan diriku. Dalam hidup ini,ada begitu banyak hal yang perbuat; ada kaktus-kaktus yang yang menghiasi hidup, yang turut mewarnai kehidupan; baik menghiasi diri sendiri, sesama, sahabat, kenalan, teman, orang tua, saudar/saudari, orang yang mencintaiku dan yang aku cintai.
Dalam kehidupan ini, ada begitu banyak duri yang telah aku berikan kepada mereka. Namun dibalik duri yang aku berikan, mungkin masih ada seteguk harap yang kuberikan, walau tak sebarapa besar, karena kaktus hidup yang aku miliki tak dapat pula aku perbanyak, dan aku sadari bahwa; walau hanya sedikit, tpi cukuplah untuk memberikan kesegaran kecil dengan hadirnya diriku.
Dalam hidup ini, kita hendaknya belajar dari kaktus. Jangan melihat sisi luarnya, tetapi lihatlah sisi dalam dari suatu kehidupan. Kita jangan melihat berapa banyak kesalahan yang dibuat sesama terhadap diri kita, tetapi lihatlah seberapa banyak kesalahan yang kita buat terhadap sesama kita. Dari semuanya itu kta dapat belajar untuk segera bangkit, memperbaiki diri, memperbaiki kesalahan-kesalahan itu agar kita dapat menjadi buah yang member kehidupan.
Seperti kata temanku: “berilah kepercayaan kepada orang lain,dan belajarlah untuk saling percaya; berpikir positif terhadap orang lain akan memberikan kehidupan bagi diri dan sesama”.
Semuanya akan membuat kita seperti kaktus yang member kehidupan.
Dalam langkah yang sedikit lelah, aku melihat hamparan kaktus, anmun tak satupun yang terlihat sedang berbuah. Aku mencoba mendekati sepohon yang cukup besar dan tinggi. Di balik sebuah dahannya, ada pengharapan, dahaga akan dibebaskan.
Aku segera mengambil sebatang kayu untuk kugunakan sebagai penjolok. Dengan sedikit sentuhan saja, aku segera mendapatkan buah kaktus dengan ukuran yang cukup besar. Walau dengan sedikit usaha untuk mendapatkannya karena harus menghindari duri-durinya.
Sejenaka aku bingung, karrena bagiku adalah suatu kejanggalan untuk segera mencicipinya. Pertama-tama aku harus mengambil duri pada buahnya, bulubuah yang ada, kulitnya dan seterusnya hingga akhirnya aku dapatkan isi dalamnya.
Bagi mereka yang awam dengan buah ini, tentu pekerjaan ini adalah tidak masuk akal, hanya dapat dikonsumsi binatang atau burung-burung. Namun bagi mereka yang sudah pernah atau sering mengkonsumsinya, tentu kaktus dengan rasanya yang khas akan memberikan suatu kesegaran. Kesegaran yang diberikan buah kaktus sungguh sangat luar biasa. Kini aku dapat melanjutkan perjalananku dengan kesegaran yng ku peroleh dari buah kaktus, buah dari padang tersebut.
Sepanjang perjalanan aku merenung tentang pengalaman yang baru saja aku alami. Kaktus; pohon yang hanya dapat tumbuh dengan tanpa perwatan dari manusia, yang tumbuh di padang, pohon yang berduri, berbulu dan gatal memberikan kesegaran dengan rasanya yang khas.
Kaktus dapat diibaratkan dengan diriku. Dalam hidup ini,ada begitu banyak hal yang perbuat; ada kaktus-kaktus yang yang menghiasi hidup, yang turut mewarnai kehidupan; baik menghiasi diri sendiri, sesama, sahabat, kenalan, teman, orang tua, saudar/saudari, orang yang mencintaiku dan yang aku cintai.
Dalam kehidupan ini, ada begitu banyak duri yang telah aku berikan kepada mereka. Namun dibalik duri yang aku berikan, mungkin masih ada seteguk harap yang kuberikan, walau tak sebarapa besar, karena kaktus hidup yang aku miliki tak dapat pula aku perbanyak, dan aku sadari bahwa; walau hanya sedikit, tpi cukuplah untuk memberikan kesegaran kecil dengan hadirnya diriku.
Dalam hidup ini, kita hendaknya belajar dari kaktus. Jangan melihat sisi luarnya, tetapi lihatlah sisi dalam dari suatu kehidupan. Kita jangan melihat berapa banyak kesalahan yang dibuat sesama terhadap diri kita, tetapi lihatlah seberapa banyak kesalahan yang kita buat terhadap sesama kita. Dari semuanya itu kta dapat belajar untuk segera bangkit, memperbaiki diri, memperbaiki kesalahan-kesalahan itu agar kita dapat menjadi buah yang member kehidupan.
Seperti kata temanku: “berilah kepercayaan kepada orang lain,dan belajarlah untuk saling percaya; berpikir positif terhadap orang lain akan memberikan kehidupan bagi diri dan sesama”.
Semuanya akan membuat kita seperti kaktus yang member kehidupan.