Selasa, 22 Januari 2013

ALASAN AKU MENCINTAIMU

Alasan mengapa aku harus mencintai
adalah kamu.
Jadi aku menempatkan hatiku
dalam kenangan yang pudar
berharap ia akan mencapaimu
tetapi aku menjumpainya dijalan
yang diberikan padaku
yang telah kau ambil.
Aku mencintai dan mencintaimu.
Kisah yang kita bagi
kisah yang hanya kita berdua yang tahu
tidak mampu kuhapus,
tidak mampu kutinggalkan,
tidak mampu kulupakan.
Memandangi jalan setelah waktu yang lama
saat aku melintasi suatu jalan;
kenangan indah terus terkenang
dan aku menghentikan langkahku,
setelah waktu yang lama,
sekarang aku datang kesini,
melalui tulisan tak bermakna ini.
Aku merindukan saat itu;
Aku terkenang,
bahkan ketika aku ingin hidup
mencoba untuk tidak tertarik,
mencoba tuk tidak mencintai lagi,
namun aku tak mampu
karena seseorang sepertimu
selalu terbayang dimataku.
kenangan yang kita habiskan bersama
menghujaniku bagaikan bintang.
Alasan untuk aku hidup adalah dirimu.
kututup hatiku
tertinggal dengan beberapa sisa kenangan yang samar
yang hampir hilang
dijalan yang ku lalui,
dapatkah kita bertemu diakhirnya?
Hanya bahwa aku mencintaimu,
semakin bertambah mencintaimu.
Tapi hanya aku
yang masih tertinggal disini sendirian
aku menantikan hadirmu sekali lagi.
Cintaku telah terbakar habis,
apa yang tersisa?
Hanyalah penantian,
kelelahan dan luka.
Aku tak sanggup
melupakan seseorang sepertimu
hanya air mata yang mengalir.
Jika aku membasuh lagi cintaku,
luka kerinduan yang tersisa,
hanya kata selamat tinggal yang tersisa.
Aku tak sanggup melupakanmu,
karena aku sangat mencintaimu..
aku ingin senja itu datang lagi
karena itu alasan aku mencintaimu;
Aku takkan lelah mencintaimu.

Minggu, 20 Januari 2013

"YA"

Tanggal 26 Januari 2013 akan ditahbiskan menjadi Diakon, teman, sahabat seperjalanan sewaktu di Paroki St Yohanes Pembabtis, Fr. Rusdy, SSCC.
Jadilah pelayan-Nya yang setia hingga kekal. Doa dari sahabat, kenalan, teman dan semua keluarga serta semua saja yang mengenal bahkan tiddak mengenalmupun mendukung perjalanan panggilanmu.

Kamis, 17 Januari 2013

PREMAN BERIMAN, BRANDAL BERMORAL

Berjalan dalam hari menyusuri tempat aku menjadi diri sendiri; aku berjalan kala semua menjadi tiada.
Dalam angan aku berbicara; aku masih seperti yang dulu?
Aku preman, aku berandal, aku kocak, aku kacau, aku sombong, aku iri, aku senang, aku bahagia, dan aku-aku yang lain.
Tak dapat aku pungkiri semuanya. Itulah diriku dimasa lalu. Aku menjadi terlena ketika aku menikmati kebahagiaan sesaat yang ditawarkan dunia. Bahkan aku sangat menikmati masa itu sebagai suatu masa transisi dari kehidupan masa kecilku.
Aku tahu, semuanya menjadi indah ketika aku menjadi diri sendiri. Namun ketika aku semakin larut dalam masa itu, aku menjadi lebih buruk dari aku yang sebelumnya. Bahkan aku menjadi sangat ditakuti.
Boleh dikata, masaku adalah masa yang tak dapat di rebut oleh siapapun. Aku berkuasa atas diriku. Aku yang tiada belaskasihan kepada mereka yang bersalah, menjadikan masaku adalah hidupku sendiri.
Kini masa itu telah pergi, bahkan sangat jauh dari kehidupanku. Aku merindukan untuk kembali ke masa itu, namun bukan untuk mengulagi semuanya, tapi aku ingin kembali dan menyadarkan saudara-saudaraku yang masih seperti masaku dulu.
Aku ingin berkata kepada mereka bahwa: hidup itu indah kala semuanya dinikmati sesuai dengan apa adanya diri kita dan menjadi pribadi yang bermoral, pribadi yang beriman.
Iman yang benar akan menghantar sebanyak mungkin orang pada jalan pertobatan dan memampukannya untuk menjadi pribadi yang bertanggungjawab atas anugerah hidup yang telah diberikan kepada setiap kita.
Masa lalu adalah sejarah yang perlu dikenang, kisah yang tidak akan pernah hilang, baik suka maupun duka. Semuanya menjadi sejarah dari setiap orang yang merasa memiliki hidup dan menikmatinya.
Namun bangkit dari masa lalu yang suram adalah awal dari pembenahan diri menuju hidup suci. Tidak perlu menjadi seperti para orang kudus, tapi hidup yang mereka tunjukkan menjadi motivasi untuk merubah diri.
Aku dan masa laluku adalah sejarah dan hidup. Hidup dalam sebuah masa menjadikan kita pribadi yang melukis sejarah didalamnya. Sejarah yang terlukis adalah hidup itu sendiri.
Aku dan kamu adalah pribadi dalam sejarah.

Senin, 14 Januari 2013

DALAM KENANGAN

Tuhan penguasa, kepada siapa lagi aku harus berseru?
Kau berikan aku seorang pribadi yang kuat, tegar dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Kau temani dia dalam sepanjang sejarah hidupnya. Semua menjadi begitu mudah ketika Engkau bersamanya, semua begitu mudah ketika dia bersama kami, Semuanya menjadi indah.

Kau berikan dia waktu untuk temukan tempat dimana ia harus hidup.
Dengan kuat kuasa-Mu Kau  beri dia berarti bagi kami.
Dengan angin desah nafas-Mu, dengan samudera luas, dan sungai-sungai bahkan dengan api Engkau berikan semuanya untuk dinikmatinya.
Engkau mendebarkan hatiku, dengan mujizat-mujizat yang tak dapat aku pahami yang Engkau berikan kepadanya. Dengan semuanya itu, Kau bimbing dan Kau arahkan dia untuk menghormati hidup.
Sekalipun orang memberikan harta kepadanya, ia takkan pernah puas dengannya. Ia akan puas kalau ia dapat memaknai hidup yang Engkau berikan kepadanya.
Namun kini, semuanya itu hanya menjadi kenangan kami bersamanya. Empat belas Januari Dua Ribu Dua Belas (pukul 15.30) Engkau menghendakinya sehingga ia kembali kepada-Mu. Aku dan mereka merindukan pribadi sepertinya hadir lagi untuk bersama kami merajut hidup dalam ziarah panggilan kami, namun misteri-Mu jauh melebihi kebutuhan kami. Kami rindu untuk ada bersamanya, namun kami tak tahu kapan itu terjadi. Kami hanya berharap pada-Mu, agar Engkau yang kini ada bersamanya menyampaikan maaf kami buatnya untuk segala kekurangan dan kelemahan yang telah kami perbuat terhadapnya dan terimakasih kami karena kehadirannya didunia telah menghadirkan kami juga untuk melanjutkan karya-Mu, dan kehadirannya ditengah kami telah menjadi mujizat bahwa Engkau bersama kami, Engkau hadir dalam dirinya.

Kakek, selamat berbahagia bersama Bapa di Surga. Doakan kami yang masih berziarah di dunia ini.

Mengenang satu (1) tahun meninggalnya kakek tercinta; Martinus Mali

Sabtu, 12 Januari 2013

TERJUN SAMBIL MEMBUAT SAYAP (M.T)

Manusia sebagai makluk sosial tidak dapat hidup tanpa bantuan dan kerja sama dengan orang lain. Ini disebabkan oleh karena manusia itu adalah makluk yang berakal budi, yang sangat bergantung pada makluk lain, baik itu hewan maupun tumbuh-tumbuhan dan bahkan batu atau benda mati. Hidup manusia yang penuh dengan kekurangan terkadang membuat manusia sangat bangga dengan segala apa yang dimilikinya, namun perlu disadari bahwa, dalam kelebihan-kelebihan itu ada saja kekurangan yang perlu diisi oleh makjluh ciptaan yang lain. Inilah yang dinamakan dengan apa yang dikatakan oleh para ahli biologi “simbiosis” dalam hidup.
Dalam situasi apapun, orang akan berbangga dengan apa yang dimilikinya saat ini. Tanpa disadari bahwa semuanya itu merupakan sesuatu yang mungkin berlangsung untuk sementara waktu. Allah telah memberikan semuanya untuk dikembangkan. Segala yang ada dibumi ini manusialah yang menguasainya tapi bukan untuk saling menguasai.
Diamati-Nya segala bentuk ciptaan yang telah ada dan semuanya itu sempurna adanya; dan yang dinamakan-Nya makluk manusia itu sangat menyerupai-Nya sehingga Ia sangat menaruh harapan padanya untukmengelolah apa yang telah ada baginya. Dalam pada itu, kita hendaknya berusaha untuk terus meningkatkan apa yang ada pada diri kita agar semakin maju dan berkembang sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Sang Pencipta.
Dalam melakukan sesuatu, kita berusaha untuk semakin gigih memperjuangkan segala bentuk kekurangan kita seperti kata pepatah “terjun sambil terus membuat sayap”. Yang menjadi tujuan utama dari kata pepatah ini adalah: bagaimana seharusnya kita sebagai manusia mengembangkan apa yang ada pada diri kita agar dengan itu semakin hari semakin kita diberi sebuah harapan baru akan datangnya hari yang lebih cerah. Disetiap perjalanan hidup kita, adapun satu atau lain hal yang kita merasa belum cukup untuk membuat kita bangga dengannya. Bila hidup seperti itu terus kita kembangkan dalam setiap gerak hidup kita, maka apa yang menjadi impian dan cita-cita dapat tercapai.
Hidup memang indah, apabila kita terus dan terus untuk semakin maju dengan apa yang telah kita kembangkan selama kita masih mampu untuk mengembangkannya. Dunia akan terasa kecil kalau kita menikamti perbuatan yang sedang berlangsung yang kita jalankan demi kelangsungan hidup diri pribadi dan dapat membuat orang lain turut merasakan kebahagiaan kita itu.
Dunia berarti milik kita yang hendaknya kita sendirilah yang menjadi penanggungjawab atas segala sesuatu yang terjadi dan yang ada demi kelangsungan hidup semua yang ada diatasnya. Adapun sayap-sayap yang dikembangkan untuk terbang setinggi mungkin sering patah/putus dan bahkan jatuh. Sayap-sayap yang jatuh itu hendaknya tidak kita biarkan begitu saja jatuh, tetapi mengangkatnya; mungkin masih dapat digunakan sebagai suatu hiasan yang begitu indah atau apa saja yang memberikan makna bagi kita dalam hidup.
Dalam menjalani hidup, apabila kita mengalami satu kekeliruan atau kesalahan, hendaknya segera berbenah diri agar tidak terus jatuh dan akhirnya membuat kita hancur sendiri. Kita sebaiknya memberikan pintalan-pintalan atau berusaha untuk menumbuhkan bulu-bulu yang baru sehingga akhirnya membentuk suatu bulu yang kokoh dan kuat untuk dapat terbang sejauh dan setinggi mungkin. Orang yang mempunyai impian besar adalah orang yang telah siap untuk terbang, walau apapun resiko yang ia alami. Terbang melampaui dunia luar adalah sebuah impian tertinggi setiap orang dengan resiko yang harus ditanggung oleh setiap kita yang ingin terbang tinggi mencapai apa yang kita idamkan dan harapkan untuk dicapai.
Apabila harapan dan impian itu tidak kita gantungkan setinggi mungkin, maka harapan untuk kita terbang setinggi mungkin tidaklah terwujud karena apa yang kita gantungkan tidak membuat kita utnuk berusaha dan berjuang untuk meggapainya. Karenanya cita-cita yang tinggi hendaklah menjadi satu hal yang hendak kita capai dalam menjalani hidup ini. Dari sekian banyak yang kita tempa dan kita gantungkan, akan ada satu yang menjadi tujuan utama yaitu; mencapai yang tertinggi; dan kalau yang tertinggi itu tidak dapat kita capai, janganlah biarkan hidup kita terpengaruh pada apa yang tidak tercapai ityu, tetapi hendaklah kita membuat jalan baru utnuk mencapainya atau dengan menggantikannya dengan hal yang lebih baik darinya, atau paling itdak yang setara dengannya.
Oleh karena itu, rajutlah sayap-sayap hidupmu dengan bulu yang kokoh dan kuat, agar anda dapat dengan leluasa terbang dan mencapai setiap impian dan harapan. Jadikanlah dirimu sebagai pribadi yang dapat membantu orang lain untuk membuat sayap atau boleh; mampu juga untuk menerbangkan orang lain dengan sayap-sayapmu yang kokoh.

Jumat, 11 Januari 2013

JUJURMU

Sepenggal kisah kau titipkan tukku
sebait pengalaman kau beberkan buatku
dan semua tergores indah dalam lembaran ini.
Kubuka lagi lembaran demi lembaran
disana terlukis indah tentangmu
disana pula ada cerita tentang kita.
Ada kisah yang pupus termakan waktu
ada pula kisah yang sirna karena kata.
Sebuah kata terucap lewat bibirmu
namun sayang katamu itu bukan tukku.
Sebuah nama kau beberkan untuk ku kenal
namun tiada kukenal.
Bertanya pada mereka yang kukenal
namun tiada juga mereka mengenal.
Kau berikan aku kata
kau berikan pula aku bahasa,
bahasa mulutku adalah ucapan bibirmu
kuterima sebagai bukti kalau kau masih ada.
Namun ketika aku berkata,
ketika aku berbahasa,
aku bohong; katamu.
Aku tahu, aku bukan penyair
karena syairku tak seindah syairnya
Syairku gelap
karena Syairku kutulis dalam hati.
Kuharap kau dapat membaca syair hatiku
namun..
syairku tak terbaca olehmu.
Syairku hilang
Syairku termakan syair namanya.
Kau tahu apa yang kutahu
tapi aku tak tahu apa yang kau tahu
karena itu, kuharapkan jujurmu.

Kamis, 03 Januari 2013

HANYA ILUSI

Senja ini kau hadir dalam bayang tersamar..
aku yang seperti mengenalmu
kembali mengingat segenggam harap yang tercurah..
namun pada siapa harap itu tercurah?
Aku mengenalmu,
tapi aku tak mengingatmu.
dan gerimis senja ini membuatku semakin tak mampu untuk mengingat.
Aku seperti hilang ingatan;
yang ada hanya tanya dalam diri;
Bukankah itu pernah terucap lewat bibirmu?
Bukankah pernah menjadi impianmu?
Tapi siapakah dirimu?
Senja hampir berlalu..
namun kau tak juga ada dalam ingatanku;
harapmu tak juga kujumpa.
Mengingatmu dan mengingatnya adalah perjuangan bagiku..
karena harapmu bukan untukku.
Aku seperti sang pemimpi;
berharap mengenalmu tapi tak kenal.
Berharap mengerti tapi tak mengerti.
Aku mencoba bertanya pada senja;
namun tiada jawaban, 
menunggu jawab pada senja;
namun aku tak kuat menahan dingin senja ini.
Harapku, kau bawa harapmu
untuk dia yang mengharapkan hadirnya harapmu
karena aku tak punya harapan
untuk mengharapkan harapmu.

Goresan dikala suntuk.