Rabu, 07 September 2022

Didepan pusaramu

 Pusara ini belum kering.

Juangmu seolah masih nyata

Dalam ada dan tiadamu.

Engkau yang kini terbaring dibalik pusara

Tentu bertanya;

Siapa aku disini?

Kemana mereka pergi?

Dalam juangmu tentu pula engkau bertanya;

Akankah aku kembali?

Disini,

Di makam ini

Engkau dibaringkan

Tanpa kata.

Kemarin mungkin sesengguk kata terucap lirih

Tapi tiada mengerti.

Sesengguk air terteguk melenyap dahaga harimu.

Kini di pembaringan ini

Engkau terlelap dalam tidur abadimu.

Apa yang ingin kau luapkan tiada terdengar.

Hanya sapa lewat lirik dan derai air mata yang tercurah sebagai ungkapan rasa.

Semua seperti tiada.

Hilang berganti dalam hari yang berubah.

Tapi yang nyata, 

namamu abadi dalam lubuk hati yang mengenalmu.

Engkau sebagai insan 

Yang pulang tanpa rasa.

Melepaskan diri dari genggaman bumi Weluli

Seolah engkau yatim piatu;

Tak berbapak, 

Tak beribu.

Tak punya saudara,

Tak punya saudari.

Tak punya segalanya.

Kaulah segalanya bagi kami.

Kaulah kami.

Didepan pusaramu;

Saudaramu,

Saudarimu,

Ponakmu,

Cucumu,

Segalamu ada dan hadir

Saksi sejarah

Kau berpulang bersama kami;

Kami adalah dirimu.

Engkau saudaraku,

Engkau kekasihku.

Didepan pusaramu,

Berdiri sekian kerabatmu

Menghantarmu dalam peluk abadi

Dalam rangkulan DIA

Sang pemilik

Engkau bukan pergi

Tetapi engkau pulang;

Kembali kepada DIA Sang Pemberi.

Terpujilah Tuhan Sang Pemberi.


Baba An Yi; doakan saudara-saudarimu dan kami semua.

Senin, 05 September 2022

In memoriam; Baba An Yi

Berpuluh tahun pergi seperti tiada.

Peluk hangat dada yang mendekapmu selalu mencari

Karena kau putranya.

Kedua Peluk jiwa itu pergi mendahuluimu

Karena darah yang mengalir enggan kembali seperti kering di kemarau panjang.

Berpuluh tahun itu seperti musafir

Mencari dan terus mencari

Hingga pada pulangnya engkau tiada.

Sepuluh tahun (ayahandamu; Martinus Mali)

tujuh tahun (Saudarimu: Martina Lilo)

dan empat tahun (Ibundamu: Ana Maria Bui);

pulang mereka seperti diam.

Ibarat musafir engkau melangkah

Ke mana dan di mana kakimu terhenti

Kau bertelut

Mencari asa, cita dan cinta.

Dua puluh empat Agustus 

pulangmu pada peluk bumi Weluli

Tempat dimana asalmu 

seperti tiada cinta menyambut.

Pulangmu hanya sebatas pamit

pada asal cinta yang merengkuh

Cinta tanpa kisah 

karena pulangmu hanya diam.

Cinta mereka adalah kuatmu

hingga engkau pulang 

Pada rahim sang Khalik.

Pulangmu menyayat dada

Sebelum kakakmu Mateus Mali pergi jauh, 

engkau menyusulnya.

Engkau butuh teman perjalanan

Mungkin engkau telah lupa 

pada rona yang dulu melahirkan,

Pada dia yang pernah mencintaimu

Sehingga engkau ingin beriringan dengan kakakmu Mateus.

Duka belumlah purna,

Engkau membuat basah lagi 

dengan air mata yang sama;

Air mata duka.


Pada rantau yang hening

Kugoreskan kisah mengenangmu; 

Berpulang pada peluk asal

Adalah rindumu 

untuk pulang ke keabadian.

Selamat jalan baba. 

Peluk cium untukmu baba An Yi.


Rindu pada Jumpamu dengan ayahandamu: Martinus Mali, 

dekap masa kecilmu terulang dengan ibundamu: Ana Maria Bui, 

belai mesramu pada saudarimu: Martina Li Lo, 

manjamu dengan saudaramu: Yohanes Bere A Kit  dan Yohanes Tuas;

 dan jumpa bersama keluarga semoga menjadi

pengobat rindumu di kebadian.


Pada tidur abadimu,

Doakan kami semua yang masih berziarah ini.


Peluk rindu teriring doa dari perantauan untukmu baba An Yi.