Pusara ini belum kering.
Juangmu seolah masih nyata
Dalam ada dan tiadamu.
Engkau yang kini terbaring dibalik pusara
Tentu bertanya;
Siapa aku disini?
Kemana mereka pergi?
Dalam juangmu tentu pula engkau bertanya;
Akankah aku kembali?
Disini,
Di makam ini
Engkau dibaringkan
Tanpa kata.
Kemarin mungkin sesengguk kata terucap lirih
Tapi tiada mengerti.
Sesengguk air terteguk melenyap dahaga harimu.
Kini di pembaringan ini
Engkau terlelap dalam tidur abadimu.
Apa yang ingin kau luapkan tiada terdengar.
Hanya sapa lewat lirik dan derai air mata yang tercurah sebagai ungkapan rasa.
Semua seperti tiada.
Hilang berganti dalam hari yang berubah.
Tapi yang nyata,
namamu abadi dalam lubuk hati yang mengenalmu.
Engkau sebagai insan
Yang pulang tanpa rasa.
Melepaskan diri dari genggaman bumi Weluli
Seolah engkau yatim piatu;
Tak berbapak,
Tak beribu.
Tak punya saudara,
Tak punya saudari.
Tak punya segalanya.
Kaulah segalanya bagi kami.
Kaulah kami.
Didepan pusaramu;
Saudaramu,
Saudarimu,
Ponakmu,
Cucumu,
Segalamu ada dan hadir
Saksi sejarah
Kau berpulang bersama kami;
Kami adalah dirimu.
Engkau saudaraku,
Engkau kekasihku.
Didepan pusaramu,
Berdiri sekian kerabatmu
Menghantarmu dalam peluk abadi
Dalam rangkulan DIA
Sang pemilik
Engkau bukan pergi
Tetapi engkau pulang;
Kembali kepada DIA Sang Pemberi.
Terpujilah Tuhan Sang Pemberi.
Baba An Yi; doakan saudara-saudarimu dan kami semua.