Selasa, 13 Februari 2024

ANTARA PEMILU, ABU DAN VALENTINE

Sebagai warga negara yang cinta NKRI, wajiblah memberikan suara untuk menentukan siapa pemimpin di semua levelnya (Presiden dan wakil, DPR RI, DPD, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten) untuk 5 tahun ke depan. Bukan soal kalah-menang; tetapi seperti kata Pastor Frans Magnis Suseno, SJ katakan; "Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik, tetapi menghindari yang terburuk berkuasa". Maka dari itu "pilihlah pemimpin sesuai hati nurani". 

Dalam hajatan/pesta demokrasi, sebagai umat Katolik pun memulai puasa (retret agung) untuk merenungkan cinta Tuhan kepada umat-NYA yang rela menderita, wafat dan bangkit Mulia. Berkaitan dengan pesta demokrasi; siapapun yang terpilih adalah mereka yang dipercayakan warga negara, namun tentu ada juga yang kalah. Maka dari itu, yang kalah janganlah berkecil hati karena belum saatnya, atau juga sudah lewat masanya. Dan nikmatilah apa yang ada sambil merenungkan nilai-nilai hidup apa saja yang telah diberikan kepada diri, keluarga dan sesama sehingga itu menjadi bekal di hari akhir. 

Bersamaan dengan itu, bagi sebagian besar orang di seluruh dunia merayakan hari kasih sayang.

Berhubungan dengan dua moment diatas, perlulah direfleksikan bahwa sebagai warga negara dengan cinta yang sama memberikan suara sebagai bentuk dukungan bagi pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan negara ditangan orang yang tepat dengan menghayati cinta Tuhan yang terluka, teraniaya dan bahkan di bunuh demi keselamatan banyak orang. Umat Katolik ditandai dengan Abu sebagai simbol manusia lemah, rapuh dihadapan Tuhan dan sesama. Bukan dengan coklat kasih sayang atau bentuk ungkapan kasih sayang yang lainnya yang diberikan kepada sesama. Abu dan coklat menjadi satu dalam cinta yang melekat pada republik Indonesia tercinta.

Cinta akan rumah NKRI membakar semangat kasih sayang dan cinta akan Tuhan.


Demokrasi menyatu dalam kasih sayang dengan cinta yang nyata dalam kasih Tuhan.