Kamis, 31 Desember 2015

BERISTRI DAN MEMILIKI BANYAK ANAK

Setelah berkisah tentang kesibukkan dan kegiatan diakhir tahun ini dengannya walau hanya via telpon, aku sejenak meluangkan waktu ke Taman Kota. Perjalananku ditengah hiruk pikuk Kota sambil memperhatikan segala aktifitas yang dilakukan oleh kebanyakan orang yang hilir mudik didepanku. Segala kesibukkan yang dilakukan diakhir tahun ini membuatku sejenak merenung dan bertanya diri; “untuk apa harus sibuk dengan yang akan pergi, untuk apa juga menyibukkan diri dengan yang akan datang? Tohh akan dilewati dan akan menjadi kenangan, dan yang akan datang akan diterima dan dijalani”. Memang “iya” karena semua yang ada dan pernah ada akan lewat. Namun; apakah harus sibuk dengannya? Dengan semua yang ada? Menikmati yang lewat dan yang akan datang, mungkin lebih baik. Apapun situasinya, apapun kondisinya, apapun persoalannya, suka ataupun duka; DINIKMATI SAJA. Dan ketika merenung seperti ini, datanglah dua orang remaja putri; berperawakan menarik dan masih sangat muda duduk bersebelahan denganku. Tentunya tempat umum seperti ini menjadi salah satu tempat persinggahan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para remaja untuk mengakhiri hari terakhir di tahun ini.
Dengan udara Taman Kota yang cukup sejuk, membuatku kembali dengan sepenggal tanya yang sempat muncul dalam pikiranku tadi. Namun tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara dari salah satu dari kedua remaja putri itu. “Sendirian om?” “Iya, tante. Berdua ya?”; Jawabku. Merasa lucu dengan jawabanku (dengan sapaan tante; walau mereka masih remaja), kedua remaja itu cengar cengir. Dan bertanya lagi padaku: “mmmm sudah berkeluarga ya?” “Iya, sudah. Jawabku. mana pasangannya om?” “Ada tu, di rumah. Kami dikaruniai banyak sekali anak sehingga beliau tidak dapat meninggalkan yang masih kecil. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan kami setiap hari saja kami harus berjalan dari kota ini ke kota seberang untuk menjual sedikit hasil yang diperoleh dari menggarap lahan orang; jawabku. “Napa tidak diajak jalan-jalan?”; tanyanya lagi. Kalau jalan, takutnya urusan dirumah tidak beres. Sementara anak kami yang berumur dua tahun satu bulan satu hari; hari ini, harus selalu dijaga karena selalu rewel kalau tidak diperhatikan. Tanpa disadari waktu menunjukkan pukul 12:00, dan dengan sedikit alasan, akupun segera meninggalkan Kawasan Taman Kota itu. Ketika akan melangkahkan kaki meningglkan kedua gadis itu, salah satu gadis yang hanya diam sejak percakapan itu menanyakan namaku dan identitasku yang lain. Sejenak aku berhenti memberitahukan nama dan identitasku yang ditanyakan dan si gadis memberitahukan namanya, tetapi gadis yang satu tersipu malu setelah diberitahukan tentang yang sebenarnya. Kataku kepadanya: “Santai saja ad... Memang seperti itu, kita belum pernah saling jumpa , tentu juga kita belum saling kenal.”
“Maaf ya kak, saya tidak tahu”; Jawabnya. “Iya, tidak apa-apa ad. Trimakasih untuk hari ini, trimakasih untuk 2015. Selamat Natal ya ad, dan selamat menyongsong tahun baru; 2016; Kataku lagi.
“Iya, selamat Natal dan Tahun Baru juga buat kak, dan salam buat semua disana.”: Jawab mereka hampir bersamaan. “OK, trimakasih ad. salamnya akan disampaikan.”
Sampai jumpa lagi.

Minggu, 27 Desember 2015

2015

Hari adalah rahasia yang tidak pernah diketahui oleh manusia tentang apa yang akan terjadi didalamnya. Hari bahkan terkadang membuat manusia ragu untuk melangkah didalamnya. Tapi jika doa menjadi awal untuk menyambut hari, maka kekwatiran menjadi akhir sebelum hari dimulai. Bersandarlah pada Tuhan disetiap perjuanganmu dalam menempuh hari-harimu dan ingatlah bahwa Tuhan akan selalu memperhitungkan setiap jerih lelahmu dalam mengerjakan pekerjaan di dalam DIA.
Dalam perjalanan dan ziarah ini, mungkin pernah terluka dan melukai, tapi karena itu kita dapat belajar tentang bagaimana menghargai, menerima, berkorban, dan mempertahankan. Mungkin pernah membohongi dan dibohongi, tapi dari itu kita dapat belajar tentang kejujuran. Andaikan kita tak pernah melakukan suatu kesalahan dalam hidup ini, mungkin kita tak akan dapat belajar tentang arti dari meminta dan memberikan ma’af. Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini, baik yang diisi dengan keburukkan, maupun dengan kebaikkan, sungguh tak akan terulang kembali, namun ada satu hal yang tetap dapat kita lakukan, yaitu: terus belajar dari masa lalu untuk hari esok yang lebih baik. Tidak perlu memikirkan baik, buruk dari apa yang kita lewati, tetapi bagaimana yang telah kita lewati dapat menjadikan kita lebih dewasa.
Ditebing waktu 2015, ketika kita menatap mentari; mintalah padanya amanat kebijaksanaan untuk memberi kasih tanpa pamrih. Ditepi rentetan luka hidupmu, ketika kita menatap embun pagi, mintalah padanya belaian dan kesegaran hidup tanpa henti. Jangan pernah malu pada mentari, begitupun pada embun. Tersenyumlah selalu pada mereka karena mereka adalah pelabuhan nan damai, tempat sang inspirasi kehidupan bersandar
Di penghujung Dua ribu lima belas (2015), ada banyak kisah juga banyak cerita;
Kisah dan cerita tentang: cinta, persahabatan. Ada canda, tawa; suka, tangis; duka. Dua ribu lima belas (2015), bukanlah sekadar judul sebuah lagu, tetapi lagu tentang kehidupan; bukan judul sinetron; namun di dalamnya ada peran kehidupan. Dua ribu lima belas (2015) adalah saksi dalam perjalanan hidup.
Dari hari kehari, minggu ke minggu, bulan ke bulan dan Dua ribu lima belas (2015) akan berganti. Dua ribu lima belas (2015) mengajari kita banyak hal,
Mengajari kita untuk memulai sesuatu. Biarkan kenangan dihari ini menjadi cerita dihari esok, karena esoka akan ada cerita yang baru, dan biarkan cerita dihari esok menjadi tantangan yang penuh dengan misteri yang harus diperjuangkan agar dapat dan dimampukan untuk melewatinya dengan baik.
Trimakasih Tuhan; Trimakasih buatmu orang tua, nenek. saudara/saudari, sahabat, teman dan pencinta tanpa nama yang tercinta; atas segala kebersamaan sepanjang Dua ribu lima belas (2015). Dalam beberapa hari yang tersisa di tahun Dua ribu lima belas (2015) ini. Lembaran Dua ribu lima belas (2015) ini akan ditutup. Sebelum masa ini berakhir; ku ingin menyampaikan satu hal yang kita semua tahu: “Jika ada salah, tulislah diatas debu, biar hilang ditiup angin, dan ukirlah maafku dikalbu hatimu agar tak hilang dihempas badai”.
Dua ribu enam belas (2016)... kutunggu hadirmu.