Sabtu, 19 Maret 2016

TRIMAKASIH "MAMA", TRIMAKASIH UNTUKMU SEMUA

Pada waktu seorang anak lahir, dia teriak menangis, padahal bapa dan mama bersorak gembira, kakak dan adik bersorak gembira. Kita bertanya, kenapa anak yang baru lahir itu menangis? Dia merasa seperti terjun ke suatu dunia lain, dia merasa ada sinar, dia mendengar suara ribut, dia merasa badannya terletak pada tempat tidur yang amat asing baginya. Semua dunia di sekelilingnya amatlah asing. Kenapa asing? Karena sebelumnya, dia selama 9 bulan menikmati keteduhan dalam rahim mama, dia selama 9 bulan dibuai dalam rahim mama, tidak ada dunia yang lebih tentram daripada rahim mama. Dia dan mama ! Tak ada yang lain, hanya dia dan mama ! Dunianya adalah mama, tak ada yang lain. Maka ketika dia tiba-tiba terjun ke dunia ini, dia merasa seperti terbuang dari dunianya sendiri, dunia mama. Dia belum sadar bahwa di dunia baru ini adalah mama yang sama. Kalau tadi dia teduh dalam rahim mama, kini dia teduh dalam rangkulan mama. Lewat beberapa waktu dia mulai mengalami mama, kembali ke dunia yang sama, dunia mama. Hanya rangkulan mama, hanya ciuman mama, hanya napas mama. Di kota besar, anak, sejak bayi diserahkan kepada pembantu. Mama dan bapa pergi kerja cari uang. Akibatnya si bayi lebih kenal si pembantu daripada mama dan bapa. Kita disini lain, kita di kampung yang miskin dan sederhana ini, tidak kenal pembantu, tidak kenal kereta dorong. Yang kita kenal adalah pelukan mama, rangkulan mama, kehangatan napas mama, kehangatan kasih mama, kaka, adik, bapa. Di kota besar, kalau anak sakit, kalau anak jatuh dan lain-lain, langsung telpon dokter, langsung telpon ambulance, langsung bawa ke RS.
Di kampung, si anak langsung dirangkul mama, langsung digendong mama, mama merangkul anaknya dengan keras, si anak merasakan kehangatan tubuh mama. Dan umumnya anak menjadi tenang, hilang rasa sakitnya. Dia diam, tidak menangis lagi. Anak merasa sembuh. Sepintar apapun dokter itu, semodern manapun rumah sakit itu, tidak sama dengan kehangatan tubuh mama, kehangatan napas mama. Dalam rangkulan mama, tak ada lagi yang dicemaskan. Sekalipun mama barangkali buta huruf, mama tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Mama yang buta huruf sekalipun, dapat mendidik anaknya untuk menjadi orang, untuk menjadi tokoh masyarakat. Kita bertanya, darimana mama mendapat kemampuan yang luar biasa itu? Bagaimana mama dapat membaca arti tangisan banyinya?Kasih mama itu, tidak lain daripada pancaran sekeping kasih Tuhan kepada setiap kita. Kasih mama itu, hanyalah sepotong saja dari kasih Tuhan. Kasih mama itu, hanyalah gambaran saja dari kasih Tuhan terhadap kita. Kasih mama itu, hanyalah satu titik kecil saja dari kasih Tuhan terhadap kita. Kasih Tuhan atas kita, jauh lebih besar daripada kasih mama terhadap si anak. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana besarnya kasih Tuhan terhadap kita. Karena kasihNya kepada kita, Bapa Surgawi bahkan menyerahkan Putra Tunggal untuk menebus dosa kita, tebusan lewat Golgota, tebusan lewat salib yang hina. Kita patut bersyukur kepada Tuhan atas anugerah kehidupan ini. Kita bersyukur kartena Tuhan yang Mahabaik tetap memelihara dan menjaga hidup ini secara baik sehingga kita semua boleh merayakannya dalam satu suasana gembira dan penuh sukacita. Hidup ini adalah anugerah yang tidak kita rencanakan, tetapi telah ditata bagus oleh sang pencipta. Hidup juga adalh sebuah misteri yang tidask dapat dipahami oleh budi manusia, namun dihadapan Allah dia begitu mulia dan berharga dengan segala ciptaan yang lain. Anugerah ini dipelihara dan dijaga serta dilindungi sercara teratur dalam sebuah kandungan mama sembilan bulan lamanya. Dan mama mempunyai duka derita tersendiri dan hanya dia yang tahu karena mengalaminya sendiri. Kasih Tuhan dipancarkan lewat mama. Kasih mama pancaran kasih Tuhan. Kita tidak mampu membayangkan kasih Tuhan, tidak dapat membayangkan, apa yang disiapkan Tuhan bagi masa depan. Yang jelas Tuhan sudah siapkan mama. (NN)
Trimakasih untukmu semua; sahabatku, temanku, saudaraku, saudaraiku, orang tuaku dan semua saja yang menaruh perhatian, dukungan, doa dan cinta kepadaku.
Trimakasih kepada ibu yang bukan dari darahnya aku dilahirkan; ibu Serikat; SVD yang telah menjadi ibuku saat ini, konfraterku semua.
Trimakasih khusus juga untuk komunitas St. Paulus-Ledalero yang telah menerimaku selama ini, trimakasih untuk segala berkat dan pengalaman selama ini. Trimakasih buat para pendamping; P. Hubert, SVD, P. Agust, SVD, P. Bill, SVD, P. Lawrence, SVD, Ms. Joane dan semua yang menruh perhatian kepadaku selama keberadaanku di Ledalero. Trimakasih untuk Provinsi SVD Timor yang mempercayakan saya untuk mengambil kesempatan ini dalam belajar bahasa asing, Trimakasih juga untuk Provinsi SVD Ende dan Komunitas St. Paulus-Ledalero yang telah menerimaku.
Mohon Maaf atas segala salah dan khilaf yang ada.
Sampai jumpa lagi dilain kesempatan.
SHALLOM
TABE

Selasa, 19 Januari 2016

DICELA"H" ITU

Pada celah dahan itu tampak lelehan kata yang tak tersaji dalam deraian daun; terlihat menjadi seperti linglung pada ingatan akan masa itu, tiada mampu beri daya dengan segurat asa yang tertinggal. Dalam dekapan dahan, daun itu gugur sebelum musimnya. Tak tahan memandang pada sombong dunia yang mengikis dalam debu tapak-tapak kaku yang gontai. Dari sanalah jua hidup bermula, padanyalah akan bermati raga dalam mati rasa. Adegan hidup ini menghantarnya pada kaku dan kusam riwayat yang tergores dalam diam dan hening. Dalamnya adalah adamu dan dalamnya adaku, ada mereka; ada kita. Ada kita yang menjadikannya ada. Masalah. Ya masalah. Itulah yang ada dalam setiap tirai hidup yang berkepanjangan dalam nada dan masa. Dalam nada yang tak memperdengarkan bunyi atau suara namun dalam masa semua ada. Andai itu adalah aku maka aku tidak ingin itu menjadi kamu karena kita sama namun beda dalam pikir dan rasa. Rasa yang ada tidak seperti apa yang terasa ketika tiba masa untuk merasa namun janganlah berbangga karena masa tapi berharaplah akan masa karena akan ada masa yang slelau menghantui untuk merasakan apa yang dirasakan. Mendekapmu bagai dahan mendekap daun entah basah atau kering dia mendekap. Seribu wangi kau sulutkan bagai menyulut rokok pada bibir kusammu. Kibarkan asap pada neraca hidup yang tak juga seimbang. Kau lebih memilih untuk menjadi sebatang pizza pada rumput yang mongering; menjadikan semua bersemu karena melihatmu. Kau bagai pemimpi yang tak habis akal untuk terus bermimpi mencapai asamu. Walau kadang sirna karena elok harimu bersama asap hidup. Kepulannya menjauh dan semakin meniadakan rokok pada lintingnya. Kau sulut dia dengan tawa membahana dan membakar duri terhimpit derita. Derita yang tersembul karena gumpalan dan panah asap. Semua seperti lemah karena asapmu. Dan kau menjadi semakin angkuh karena asapmu semakin menutupi walau kadang tak juga ada percikan api yang kau sulutkan pada bibir yang menghimpit lintingan. Lintingan demi lintingan kau gulingkan dan sulut lagi. Tak terasa lintinganmu habis dan terbawa dalam segala mimpimu. Rona bibir tak kelihatan karena hitam asap menutupi merahmu. Raut mukamu mati laksana pesawat airasia yang hilang tertelan angkasa. Dari bibirmu yang merekah kau sulutkan lagi api demi raih impian dan puas hatimu. Tak kau sadarikah hal itu membuatnya mati bersama liur yang pahit? Memang hidup perlu kau maknai tetapi bukan dengan menyulut api itu. Api yang kau sulutkan itu bukan menjadi asa tetapi menjadi boomerang yang tak kunjung dating sebelum masanya. Pada masanya akan datang itu sebagai senjata yang mematikan naluri dan asamu yang kau gantungkan selama api masih berpijar dan akhirnya mati pada himpitan bibirmu. Jangalah jua ingin menyulut lagi api itu. Sulutlah api yang tak kunjung legang oleh waktu; tak kunjung mati oleh basah bibir dalam ucap dan kata; Yang member makna pada kasih sejati yang ada dalam adamu, adanya, adaku dan ada kita.
Kitab dan gulungan telah ada. Manakala engaku membukanya, engkau tahu isi kitab itu. Apa yang ada adalah isi darinya; Begitupun hidupmu. Ketika engkau membukanya bagi orang lain maka itulah yang akan diketahui oleh orang lain tentangmu, tentang siapa dirimu. Karenanya, janganlah engkau biarkan hidupmu dibuka demi kebahagiaan sesaat tetapi bukalah hidupmu dalam setiap ada dan tiadamu. Ketika engkau membukanya, maka semua akan seperti kemarau tahun ini. Panas tiada berujung, dalam penantian setitik air walau seperti dalam oase; namun cukuplah beri harapan untuk hidup lebih bermakna. Celah hidup pada titian ini sangatlah sulit untuk di telusuri. Begitupun perjalanan kita; Ada suka, ada duka, ada canda-tawa; semua menjadi satu harmoni dalam hidup yang menjadikan hidup lebih berwarna dan bermakna. Dan semuanya memberi warna pada ziarah dan persinggahan kita pada bumi dan masa yang kian tak bersahabat. Kita menjadi kuat, manakala kita bersatu dalam ikatan cinta murni DiA yang memanggil setiap kita dari masa ke masa. Hiduplah seturut apa yang menjadi prinsip, bukan karena sebuah pencarian tanpa dasar.