Pada celah dahan itu tampak lelehan kata yang tak tersaji dalam deraian daun; terlihat menjadi seperti linglung pada ingatan akan masa itu, tiada mampu beri daya dengan segurat asa yang tertinggal. Dalam dekapan dahan, daun itu gugur sebelum musimnya. Tak tahan memandang pada sombong dunia yang mengikis dalam debu tapak-tapak kaku yang gontai. Dari sanalah jua hidup bermula, padanyalah akan bermati raga dalam mati rasa. Adegan hidup ini menghantarnya pada kaku dan kusam riwayat yang tergores dalam diam dan hening. Dalamnya adalah adamu dan dalamnya adaku, ada mereka; ada kita. Ada kita yang menjadikannya ada. Masalah. Ya masalah. Itulah yang ada dalam setiap tirai hidup yang berkepanjangan dalam nada dan masa. Dalam nada yang tak memperdengarkan bunyi atau suara namun dalam masa semua ada. Andai itu adalah aku maka aku tidak ingin itu menjadi kamu karena kita sama namun beda dalam pikir dan rasa. Rasa yang ada tidak seperti apa yang terasa ketika tiba masa untuk merasa namun janganlah berbangga karena masa tapi berharaplah akan masa karena akan ada masa yang slelau menghantui untuk merasakan apa yang dirasakan. Mendekapmu bagai dahan mendekap daun entah basah atau kering dia mendekap. Seribu wangi kau sulutkan bagai menyulut rokok pada bibir kusammu. Kibarkan asap pada neraca hidup yang tak juga seimbang. Kau lebih memilih untuk menjadi sebatang pizza pada rumput yang mongering; menjadikan semua bersemu karena melihatmu. Kau bagai pemimpi yang tak habis akal untuk terus bermimpi mencapai asamu. Walau kadang sirna karena elok harimu bersama asap hidup. Kepulannya menjauh dan semakin meniadakan rokok pada lintingnya. Kau sulut dia dengan tawa membahana dan membakar duri terhimpit derita. Derita yang tersembul karena gumpalan dan panah asap. Semua seperti lemah karena asapmu. Dan kau menjadi semakin angkuh karena asapmu semakin menutupi walau kadang tak juga ada percikan api yang kau sulutkan pada bibir yang menghimpit lintingan. Lintingan demi lintingan kau gulingkan dan sulut lagi. Tak terasa lintinganmu habis dan terbawa dalam segala mimpimu. Rona bibir tak kelihatan karena hitam asap menutupi merahmu. Raut mukamu mati laksana pesawat airasia yang hilang tertelan angkasa. Dari bibirmu yang merekah kau sulutkan lagi api demi raih impian dan puas hatimu. Tak kau sadarikah hal itu membuatnya mati bersama liur yang pahit? Memang hidup perlu kau maknai tetapi bukan dengan menyulut api itu. Api yang kau sulutkan itu bukan menjadi asa tetapi menjadi boomerang yang tak kunjung dating sebelum masanya. Pada masanya akan datang itu sebagai senjata yang mematikan naluri dan asamu yang kau gantungkan selama api masih berpijar dan akhirnya mati pada himpitan bibirmu. Jangalah jua ingin menyulut lagi api itu. Sulutlah api yang tak kunjung legang oleh waktu; tak kunjung mati oleh basah bibir dalam ucap dan kata; Yang member makna pada kasih sejati yang ada dalam adamu, adanya, adaku dan ada kita.
Kitab dan gulungan telah ada. Manakala engaku membukanya, engkau tahu isi kitab itu. Apa yang ada adalah isi darinya; Begitupun hidupmu. Ketika engkau membukanya bagi orang lain maka itulah yang akan diketahui oleh orang lain tentangmu, tentang siapa dirimu. Karenanya, janganlah engkau biarkan hidupmu dibuka demi kebahagiaan sesaat tetapi bukalah hidupmu dalam setiap ada dan tiadamu. Ketika engkau membukanya, maka semua akan seperti kemarau tahun ini. Panas tiada berujung, dalam penantian setitik air walau seperti dalam oase; namun cukuplah beri harapan untuk hidup lebih bermakna. Celah hidup pada titian ini sangatlah sulit untuk di telusuri. Begitupun perjalanan kita; Ada suka, ada duka, ada canda-tawa; semua menjadi satu harmoni dalam hidup yang menjadikan hidup lebih berwarna dan bermakna. Dan semuanya memberi warna pada ziarah dan persinggahan kita pada bumi dan masa yang kian tak bersahabat. Kita menjadi kuat, manakala kita bersatu dalam ikatan cinta murni DiA yang memanggil setiap kita dari masa ke masa. Hiduplah seturut apa yang menjadi prinsip, bukan karena sebuah pencarian tanpa dasar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar