Pada waktu seorang anak lahir, dia teriak menangis, padahal bapa dan mama bersorak gembira, kakak dan adik bersorak gembira. Kita bertanya, kenapa anak yang baru lahir itu menangis? Dia merasa seperti terjun ke suatu dunia lain, dia merasa ada sinar, dia mendengar suara ribut, dia merasa badannya terletak pada tempat tidur yang amat asing baginya. Semua dunia di sekelilingnya amatlah asing. Kenapa asing? Karena sebelumnya, dia selama 9 bulan menikmati keteduhan dalam rahim mama, dia selama 9 bulan dibuai dalam rahim mama, tidak ada dunia yang lebih tentram daripada rahim mama. Dia dan mama ! Tak ada yang lain, hanya dia dan mama ! Dunianya adalah mama, tak ada yang lain. Maka ketika dia tiba-tiba terjun ke dunia ini, dia merasa seperti terbuang dari dunianya sendiri, dunia mama. Dia belum sadar bahwa di dunia baru ini adalah mama yang sama. Kalau tadi dia teduh dalam rahim mama, kini dia teduh dalam rangkulan mama. Lewat beberapa waktu dia mulai mengalami mama, kembali ke dunia yang sama, dunia mama. Hanya rangkulan mama, hanya ciuman mama, hanya napas mama. Di kota besar, anak, sejak bayi diserahkan kepada pembantu. Mama dan bapa pergi kerja cari uang. Akibatnya si bayi lebih kenal si pembantu daripada mama dan bapa. Kita disini lain, kita di kampung yang miskin dan sederhana ini, tidak kenal pembantu, tidak kenal kereta dorong. Yang kita kenal adalah pelukan mama, rangkulan mama, kehangatan napas mama, kehangatan kasih mama, kaka, adik, bapa. Di kota besar, kalau anak sakit, kalau anak jatuh dan lain-lain, langsung telpon dokter, langsung telpon ambulance, langsung bawa ke RS.
Di kampung, si anak langsung dirangkul mama, langsung digendong mama, mama merangkul anaknya dengan keras, si anak merasakan kehangatan tubuh mama. Dan umumnya anak menjadi tenang, hilang rasa sakitnya. Dia diam, tidak menangis lagi. Anak merasa sembuh. Sepintar apapun dokter itu, semodern manapun rumah sakit itu, tidak sama dengan kehangatan tubuh mama, kehangatan napas mama. Dalam rangkulan mama, tak ada lagi yang dicemaskan. Sekalipun mama barangkali buta huruf, mama tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Mama yang buta huruf sekalipun, dapat mendidik anaknya untuk menjadi orang, untuk menjadi tokoh masyarakat. Kita bertanya, darimana mama mendapat kemampuan yang luar biasa itu? Bagaimana mama dapat membaca arti tangisan banyinya?Kasih mama itu, tidak lain daripada pancaran sekeping kasih Tuhan kepada setiap kita. Kasih mama itu, hanyalah sepotong saja dari kasih Tuhan. Kasih mama itu, hanyalah gambaran saja dari kasih Tuhan terhadap kita. Kasih mama itu, hanyalah satu titik kecil saja dari kasih Tuhan terhadap kita. Kasih Tuhan atas kita, jauh lebih besar daripada kasih mama terhadap si anak. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana besarnya kasih Tuhan terhadap kita. Karena kasihNya kepada kita, Bapa Surgawi bahkan menyerahkan Putra Tunggal untuk menebus dosa kita, tebusan lewat Golgota, tebusan lewat salib yang hina. Kita patut bersyukur kepada Tuhan atas anugerah kehidupan ini. Kita bersyukur kartena Tuhan yang Mahabaik tetap memelihara dan menjaga hidup ini secara baik sehingga kita semua boleh merayakannya dalam satu suasana gembira dan penuh sukacita. Hidup ini adalah anugerah yang tidak kita rencanakan, tetapi telah ditata bagus oleh sang pencipta. Hidup juga adalh sebuah misteri yang tidask dapat dipahami oleh budi manusia, namun dihadapan Allah dia begitu mulia dan berharga dengan segala ciptaan yang lain. Anugerah ini dipelihara dan dijaga serta dilindungi sercara teratur dalam sebuah kandungan mama sembilan bulan lamanya. Dan mama mempunyai duka derita tersendiri dan hanya dia yang tahu karena mengalaminya sendiri. Kasih Tuhan dipancarkan lewat mama. Kasih mama pancaran kasih Tuhan. Kita tidak mampu membayangkan kasih Tuhan, tidak dapat membayangkan, apa yang disiapkan Tuhan bagi masa depan. Yang jelas Tuhan sudah siapkan mama. (NN)
Trimakasih untukmu semua; sahabatku, temanku, saudaraku, saudaraiku, orang tuaku dan semua saja yang menaruh perhatian, dukungan, doa dan cinta kepadaku.
Trimakasih kepada ibu yang bukan dari darahnya aku dilahirkan; ibu Serikat; SVD yang telah menjadi ibuku saat ini, konfraterku semua.
Trimakasih khusus juga untuk komunitas St. Paulus-Ledalero yang telah menerimaku selama ini, trimakasih untuk segala berkat dan pengalaman selama ini. Trimakasih buat para pendamping; P. Hubert, SVD, P. Agust, SVD, P. Bill, SVD, P. Lawrence, SVD, Ms. Joane dan semua yang menruh perhatian kepadaku selama keberadaanku di Ledalero. Trimakasih untuk Provinsi SVD Timor yang mempercayakan saya untuk mengambil kesempatan ini dalam belajar bahasa asing, Trimakasih juga untuk Provinsi SVD Ende dan Komunitas St. Paulus-Ledalero yang telah menerimaku.
Mohon Maaf atas segala salah dan khilaf yang ada.
Sampai jumpa lagi dilain kesempatan.
SHALLOM
TABE
Trimakasih khusus juga untuk komunitas St. Paulus-Ledalero yang telah menerimaku selama ini, trimakasih untuk segala berkat dan pengalaman selama ini. Trimakasih buat para pendamping; P. Hubert, SVD, P. Agust, SVD, P. Bill, SVD, P. Lawrence, SVD, Ms. Joane dan semua yang menruh perhatian kepadaku selama keberadaanku di Ledalero. Trimakasih untuk Provinsi SVD Timor yang mempercayakan saya untuk mengambil kesempatan ini dalam belajar bahasa asing, Trimakasih juga untuk Provinsi SVD Ende dan Komunitas St. Paulus-Ledalero yang telah menerimaku.
Mohon Maaf atas segala salah dan khilaf yang ada.
Sampai jumpa lagi dilain kesempatan.
SHALLOM
TABE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar