Sabtu, 23 Februari 2013

TERLALU PAGI

Aku pernah berjanji
aku takkan hidup tanpa rasa
namun ketika aku melaluinya
lebih baik hidup tanpa rasa.
Ketulusan dalam persahabatan
Menyadarkanku bahwa aku tak sendirian
kehadiran seseorang mampu hadirkan harapan.
Namun…
mencari yang tulus itu sulit
mencari yang jujur itu susah
apalagi mencari yang sempurna
itu ketakmungkinan.
Aku berusaha untuk menepati janjiku
tapi aku tak mampu mewujudkannya;
janjiku terlalu pagi.
Seperti seorang pelaut
Pikiranpun terpisah
Berlayar dibawah langit nitrogen yang biru dan luas
sampai hatiku hanyut
dimana warna biru timbul tenggelam karena kelelahan.
hati tersesat, lenyap entah kemana
bersama kawanan unggas melintasi cakrawala hati.
Aku tak bisa jadi sahabatmu untuk selamanya
karena aku tak hidup untuk selamanya.
aku tak akan jadi sahabatmu untuk saat ini
maupun yang akan datang
karena kamu adalah lebih dari sahabatku;
kamu adalah bagian dari hidupku.
Bersamamu ada banyak kisah yang belum terkisahkan
bersamamu, ada banyak cerita yang sudah terpatri
dalam dadamu aku mengelana
sepanjang musim berganti.
Pada atap hatimu,
rasa ini pernah aku titipkan.
Namun…
ternyata percayaku terlalu pagi
semuanya seperti akan berlalu.
Aku tak ingin mengenangnya dalam duka,
aku ingin atap hati
kembali melindungi ruang asa ini.
jangan biarkan aku menangis
sebagai akhir dari kisah yang pernah ada
dan yang ingin kamu lupakan
karena aku sosok lemah dan rapuh dalam ketiadaan.
Sebenarnya aku malu untuk mengatakannya,
namun karena rasa ini;
aku mengatakannya juga.
pada istana hatimu,
kutitipkan rasaku.

Kamis, 14 Februari 2013

AKU DAN WAKTU

Purna waktu sebelum ada
aku seorang pengelana.
Mencari harap aku tiada,
masaku telah purna setelah aku ada.
Aku pengelana;
mengumpul debu aku tak mampu
menembusdinding-dinding keegoisan diri
karang-karang hatiku seperti kokoh
bahkan tak sanggup aku memecahkannya.
Bilur-bilur luka masa lalu indah menghiasi;
Engkau Yang Maha Ada,
Berikan aku setetes kasih
Tuk kuhancurkan dinding keegoisan
serta karang hatiku…
karena Dikaulah kekuatan dan karang hatiku.

MENGAIS WAKTU DITEPIAN HARI

Masaku sirna..
Hitammu gelapkan hatiku
Samar terbayang wajah dikegelapan
aku dan jalanku telah tiada
aku ingin bebas
Mencari antara batas waktu.
Ingin kuukir namamu antara bintang-bintang
Karena disana aku kan selalu memandang
jika kau jauh..
jika kau tiada.
Aku ingin mencintaimu dengan caraku
aku ingin mencintaimu dengan cara sederhana.
Aku tak tahu harus bagaimana,
tapi aku akan tetap mencintaimu
sampai batas usiaku.
Aku tak mampu untuk hidup
Aku seperti tiada punya pikiran;
mengisinya dengan angin.
Aku dihanyutkan oleh perasaan hatimu
Ketika hanya padamu rasa itu ada
akupun ditakuti oleh perasaanku sendiri
aku takut kalau kau tak ada rasa.
Aku takut karena belum masanya,
Aku telah tiada;
dan aku akan menyesal kalau rasamu ada
ketika aku telah tiada.
Aku mau kau ada
aku ingin kau selalu ada
karena kau adalah bagian dari hariku.

MENGAIS WAKTU DITEPIAN HARI

Masaku sirna..

Sabtu, 02 Februari 2013

NURANI

Tidak ada kejahatan atau keburukan didunia ini, selain yang berasal dari manusia. Semuanya tergantung dari kita. Tidak ada gunanya untuk saling menuduh atau melemparkan kesalahan. Hanya satu penyelesaian yang mungkin; memperbaiki diri atau bertobat. Seluruh dunia akan berubah bagi kita, yang penting kita mau merubah diri; mengubah hati kita sendiri. semua keburukan dan kejahatanberawal dari kebutaan hati nurani kita.
Seperti pepatah China kuno mengatakan: "orang yang tahu akan prinsip hidup yang benar, tidak dapat disamakan dengan orang yang mencintai prinsip itu". Hukum makin banyak dibuat oleh para tokoh Legislative, sebagai usaha untuk menyeimbangkan usaha manusia, karena manusia tidak berpegang erat pada prinsip kemanusiaan; namun prinsip dan ketentuan yang dibuat tidak menjadi pegangan bagi setiap kita dalam hidup. Perbuatan saling menipu ddan mengadili serta saling menjatuhkan selalu dan marak terjadi dimana-mana, dan bahkan hal ini bukan saja menjadi kebiasaan orang yang tidak beragama, tetapi pula sudah merambat kedalam kehidupan beragama.
Dosa besar manusia bersumber dari hal-hal kecil saja, seperti melihat keberhasilan orang lain sebagai penghinaan atas diri, tidak sanggup mengakui kelemahan diri, dan masih banyak yang lain yang tidak disadari dalam setiap hidup kita.
Ini menggambarkan Kita sebagai manusia sesungguhnya menunjukkan betapa lemah dan rapuhnya iman kita. Kebenaran dengan begitu mudahnya dipersalahkan dan kesalahan begitu mudah dibenarkan. Pribadi-pribadi seperti ini merasa diri bahwa merekalah yang paling benar, tidak mempunyai satu kesalahanpun. Namun ternyata semuanya itu hanya 'topeng' dibalik kekuasaan mereka. karena justru yang terjadi adalah: karena mereka mau menutupi kesalahan, kelemahan dan kekurangan dirinya sendiri. Orang lain menjadi kambing hitamnya, padahal kambing hitamnya adalah mereka sendiri.
Dengan hati yang murni, kejujuran dan ketulusan hati dibela, kita dimampukan untuk sungguh-sungguh mencintai seseorang, kebahagiaan orang tersebut yang diutamakan, walau itu menyakiti dirinya sendiri. Cinta sejati  sesungguhnya bersifat altruis; bukan untuk diriku, melainkan untuk orang yang kukasihi.
Yang lahiriah mengungkapkan yang bathiniah; karena dosa bermula dari hati manusia, dari kemauan dan pilihan untuk bertindak. tetapi, apabila kita jujur dan mau bertobat, niscaya semuanya akan berubah dan dengan keberadaan kita itu akan membawa perubahan dan pembaharuan dalam hidup kita.
"Cinta yang terbatas ingin memiliki yang dicintai, tetapi cinta yang tak terbatas hanya menginginkan cinta itu sendiri" (Kahlil Gibran)