Keluhan dari warga, bahkan seorang ibu harus bersembah sujud di depan para pejabat di kantor itu, tp hati nurani mereka tertutup bahkan mati.
Di manakah hati nuranimu hai para pejabat ketika seorang ibu bersembah sujud dan merintih dihadapanmu? Bayangkanlah kalau dia adalah ibumu, dia adalah istrimu, dia adalah anakmu, dia adalah saudarimu. Namun beliau kalian melihatnya bag seonggok tanah yang tak pantas didengarkan, bahkan tiada satupun dari kalian mengulurkan tanganmu mengangkat dan mendudukkannya pada martabatnya sebagai seorang ibu. Haruskah ia terus bersembah sujud mengharapkan belaskasih dan perhatian darimu wahai para pejabat yang ada karena dia yang juga adalah wargamu? Yang adalah juga rakyatmu? Untuk siapakah engkau mengemban tugas itu? Atau hanya untuk kepentinganmu? Kepentingan kelompokmu? Bukannya anda kalian dipercayakan untuk menjalankan amanat rakyat?
Engkau yang duduk di singgasana itu adalah karena suaranya, suara rakyat yang mempercayakanmu untuk menjadi penyambung lidahnya ketika ia tak mampu bersuara ketika engkau dengan segala caramu mengambil hatinya untuk mendukung dan memilihmu dalam perhelatan demokrasi kala itu; tapi balasanmu ketika engkau seperti sekarang ini dan ia menghadapi persoalan seperti sekarang? Engkau bahkan mencuci tanganmu, dan melepaskannya seolah ia tiada punya harga diri dan martabat. Engkau telantarkan ketika ia memohon keadilan atas suami, anak dan saudara-saudaranya yang tanpa sebab ditahan selama sembilan puluh hari. Keadilanlah yang ia tuntut, tapi kalian seperti tiada punya nurani dan bahkan baginya keadilan itu tiada.
Sudah tumpul dan matikah hati nuranimu? Sudah matikah rasamu?
Janganlah kau biarkan wargamu berkeluh tentang keadilan sambil bersembah sujud namun tiada kau perhatikan.
#Salam_Keadilan
#Bebaskan_21_warga