Rabu, 07 September 2022

Didepan pusaramu

 Pusara ini belum kering.

Juangmu seolah masih nyata

Dalam ada dan tiadamu.

Engkau yang kini terbaring dibalik pusara

Tentu bertanya;

Siapa aku disini?

Kemana mereka pergi?

Dalam juangmu tentu pula engkau bertanya;

Akankah aku kembali?

Disini,

Di makam ini

Engkau dibaringkan

Tanpa kata.

Kemarin mungkin sesengguk kata terucap lirih

Tapi tiada mengerti.

Sesengguk air terteguk melenyap dahaga harimu.

Kini di pembaringan ini

Engkau terlelap dalam tidur abadimu.

Apa yang ingin kau luapkan tiada terdengar.

Hanya sapa lewat lirik dan derai air mata yang tercurah sebagai ungkapan rasa.

Semua seperti tiada.

Hilang berganti dalam hari yang berubah.

Tapi yang nyata, 

namamu abadi dalam lubuk hati yang mengenalmu.

Engkau sebagai insan 

Yang pulang tanpa rasa.

Melepaskan diri dari genggaman bumi Weluli

Seolah engkau yatim piatu;

Tak berbapak, 

Tak beribu.

Tak punya saudara,

Tak punya saudari.

Tak punya segalanya.

Kaulah segalanya bagi kami.

Kaulah kami.

Didepan pusaramu;

Saudaramu,

Saudarimu,

Ponakmu,

Cucumu,

Segalamu ada dan hadir

Saksi sejarah

Kau berpulang bersama kami;

Kami adalah dirimu.

Engkau saudaraku,

Engkau kekasihku.

Didepan pusaramu,

Berdiri sekian kerabatmu

Menghantarmu dalam peluk abadi

Dalam rangkulan DIA

Sang pemilik

Engkau bukan pergi

Tetapi engkau pulang;

Kembali kepada DIA Sang Pemberi.

Terpujilah Tuhan Sang Pemberi.


Baba An Yi; doakan saudara-saudarimu dan kami semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar