Senin, 05 September 2022

In memoriam; Baba An Yi

Berpuluh tahun pergi seperti tiada.

Peluk hangat dada yang mendekapmu selalu mencari

Karena kau putranya.

Kedua Peluk jiwa itu pergi mendahuluimu

Karena darah yang mengalir enggan kembali seperti kering di kemarau panjang.

Berpuluh tahun itu seperti musafir

Mencari dan terus mencari

Hingga pada pulangnya engkau tiada.

Sepuluh tahun (ayahandamu; Martinus Mali)

tujuh tahun (Saudarimu: Martina Lilo)

dan empat tahun (Ibundamu: Ana Maria Bui);

pulang mereka seperti diam.

Ibarat musafir engkau melangkah

Ke mana dan di mana kakimu terhenti

Kau bertelut

Mencari asa, cita dan cinta.

Dua puluh empat Agustus 

pulangmu pada peluk bumi Weluli

Tempat dimana asalmu 

seperti tiada cinta menyambut.

Pulangmu hanya sebatas pamit

pada asal cinta yang merengkuh

Cinta tanpa kisah 

karena pulangmu hanya diam.

Cinta mereka adalah kuatmu

hingga engkau pulang 

Pada rahim sang Khalik.

Pulangmu menyayat dada

Sebelum kakakmu Mateus Mali pergi jauh, 

engkau menyusulnya.

Engkau butuh teman perjalanan

Mungkin engkau telah lupa 

pada rona yang dulu melahirkan,

Pada dia yang pernah mencintaimu

Sehingga engkau ingin beriringan dengan kakakmu Mateus.

Duka belumlah purna,

Engkau membuat basah lagi 

dengan air mata yang sama;

Air mata duka.


Pada rantau yang hening

Kugoreskan kisah mengenangmu; 

Berpulang pada peluk asal

Adalah rindumu 

untuk pulang ke keabadian.

Selamat jalan baba. 

Peluk cium untukmu baba An Yi.


Rindu pada Jumpamu dengan ayahandamu: Martinus Mali, 

dekap masa kecilmu terulang dengan ibundamu: Ana Maria Bui, 

belai mesramu pada saudarimu: Martina Li Lo, 

manjamu dengan saudaramu: Yohanes Bere A Kit  dan Yohanes Tuas;

 dan jumpa bersama keluarga semoga menjadi

pengobat rindumu di kebadian.


Pada tidur abadimu,

Doakan kami semua yang masih berziarah ini.


Peluk rindu teriring doa dari perantauan untukmu baba An Yi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar