Berpuluh tahun pergi seperti tiada.
Peluk hangat dada yang mendekapmu selalu mencari
Karena kau putranya.
Kedua Peluk jiwa itu pergi mendahuluimu
Karena darah yang mengalir enggan kembali seperti kering di kemarau panjang.
Berpuluh tahun itu seperti musafir
Mencari dan terus mencari
Hingga pada pulangnya engkau tiada.
Sepuluh tahun (ayahandamu; Martinus Mali)
tujuh tahun (Saudarimu: Martina Lilo)
dan empat tahun (Ibundamu: Ana Maria Bui);
pulang mereka seperti diam.
Ibarat musafir engkau melangkah
Ke mana dan di mana kakimu terhenti
Kau bertelut
Mencari asa, cita dan cinta.
Dua puluh empat Agustus
pulangmu pada peluk bumi Weluli
Tempat dimana asalmu
seperti tiada cinta menyambut.
Pulangmu hanya sebatas pamit
pada asal cinta yang merengkuh
Cinta tanpa kisah
karena pulangmu hanya diam.
Cinta mereka adalah kuatmu
hingga engkau pulang
Pada rahim sang Khalik.
Pulangmu menyayat dada
Sebelum kakakmu Mateus Mali pergi jauh,
engkau menyusulnya.
Engkau butuh teman perjalanan
Mungkin engkau telah lupa
pada rona yang dulu melahirkan,
Pada dia yang pernah mencintaimu
Sehingga engkau ingin beriringan dengan kakakmu Mateus.
Duka belumlah purna,
Engkau membuat basah lagi
dengan air mata yang sama;
Air mata duka.
Pada rantau yang hening
Kugoreskan kisah mengenangmu;
Berpulang pada peluk asal
Adalah rindumu
untuk pulang ke keabadian.
Selamat jalan baba.
Peluk cium untukmu baba An Yi.
Rindu pada Jumpamu dengan ayahandamu: Martinus Mali,
dekap masa kecilmu terulang dengan ibundamu: Ana Maria Bui,
belai mesramu pada saudarimu: Martina Li Lo,
manjamu dengan saudaramu: Yohanes Bere A Kit dan Yohanes Tuas;
dan jumpa bersama keluarga semoga menjadi
pengobat rindumu di kebadian.
Pada tidur abadimu,
Doakan kami semua yang masih berziarah ini.
Peluk rindu teriring doa dari perantauan untukmu baba An Yi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar