Pada riak senja ini
sejenak bertutur krama;
meniti hidup ini bagai menimba embun,
perlahan dan penuh perjuangan
mendapatkan butir-butir air
pada pinggir dedaunan.
Menapaki setiap tapak dan liku
menjejaki tapak demi tapak
walau berliku,
perjuangan adalah jalan.
Pada suatu titik butuh lepas penat
namun berlelah payah tiada guna
karena Dia telah tetapkan tapak sesungguhnya.
Terkadang tiada sadar berkeluh
mengeluhkan jalan tiada mulus.
Bahagia adalah impian
namun mengapa bahaya menyapa?
Bukankah Dia selalu ada?
Bukankah Dia andalan?
Apalagi yang dicari?
Hidup kita telah rela
namun; dimanakah kerelaan itu?
Memberikan diri tiada mungkin
adakah sesuatu yang lebih intim?
Dalam Dia-lah kita bersua
namun mengapa ada dia?
Tutur bijakmu menguatkan
namun kata bijakmu menyayat.
Kesal sudah mendarah
sakit telah mendaging.
aksara dilafalkan
namun tiada mampu mengubah
karena itu jalan dan pilihanmu.
Padaku hanya ada maaf
aksara ini tak mampu ukir hasrat
karena diujung senja ini kuukir kisahku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar