“Walau ekorku putih,
tetapi masih saja ada nodanya”
terkungkung masa lalu
membuat jelas nodanya.
Kepicikan duniamu
membawamu larut didalamnya
mereka tidak tahu
hidup yang sesungguhnya dijalani.
Sakit terasa mengobati luka lama yang ada
tetapi sesakit apapun itu
haruslah diobati.
Larut dalam kelamnya masa lalu,
membunuh orang yang menyayangi kita.
Bersamamu aku kenang
masa kelam yang telah kusam,
hatimu telah terrtutup pintu untuk setiap mereka.
Katamu; “engkau lelah mengikuti kata hatimu,
ingin pergi menemui ibu
agar tak ada lagi air mata
yang membuat sedih ayahmu,
kamu tidak tahu rasanya dihina”.
Katamu pula; “jangan sayangi aku lebih dari apapun,
karena aku tak ingin menodai rasa itu.
Cerita ini hanya aku yang rasa
kisah ini hanya satu yang tahu
keluarga tidak ada yang tahu apa yang kurasakan”.
Katamu; “itu hanyalah share antara aku dan kau”.
Akhir kisahmu engkau berkata;
“Aku tak mau besok mataku bengkak karena menangis,
maafkan aku bila belum dapat menyayangi kamu
seperti rasa sayang kamu ke aku”.
Menyadarinya;
bahwa mengenalmu adalah bagian dari hidup.
Dalam perjumpaan itu
aku merasa telah menjadi sahabat dalam perjalanan..
menjadi sahabat yang dapat memberi
dan menghargai kebebasan sahabatnya.
Semoga persahabatan itu abadi
bersama sang waktu.
Berani melepaskan
karena itu konsekuensi dari "Mencintai",
ada luka, kecewa, marah,
tetapi semua itu tidak ada artinya
jika lilin panggilan
yang Tuhan nyalakan di tungku hati padam
karena hasrat cinta manusiawi.
Lihat embun di pagi hari..
dia setia di setiap pagi..
begitupun juga cara Tuhan
yang tidak pernah lupa
bahwa kita rapuh..
buatlah apa yang menurut diri mampu...
yang tersisa biarkan Tuhan yang melakukannya untukmu..
tiada kata putus asa..
Setiap kita mempunyai masa lalu, masalah, dan masa depan.
Raihlah masa depanmu dengan menjadikan masa lalu,
dan masalah sebagai pijakan untuk melangkah
meraih masa depan.
berjuanglah untuk keluar dari kemelut hati.
Dengan kemauan yang kuat,
kamu pasti dapat melihat keindahan-keindahan baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar