Perjalanan dalam ziarah ini memampukan kita untuk melihat banyak hal; baik sikap bathin, kepribadian maupun kualitas-kualitas dalam diri. Setiap kita memiliki semuanya itu dalam masalah, masa lalu, masa kini dan masa depan. Penemuan-penemuan itu lewat berbagai macam cara, lewat simbol-simbol dan semuanya tidak terlepas dari refleksi. Tanpa sebuah refleksi terhadap hal-hal itu maka kita tidak menemukan semuanya itu. Refleksi membuat kita semkin dekat dengan diri dan juga dengan sesama. Banyak waktu untuk kita melihat semuanya itu, waktu untuk sedapat mungkin masuk kedalam ruang hati kita; rumah diri kita.
Disana kita akan menemukan hakekat diri yang sesungguhnya. Hanya dalam keheningan dan refleksi kita menemukannya. dalam refleksi, kita menemukan diri; baik secara perorangan juga kita merefleksikannya bersama dalam suatu kelompok tentang hidup dan kehidupan yang sudah, sedang dan akan kita lewati. Sejauh mana kita mengenal diri kita, tentulah masing-masing kita akan menemukannya dalam setiap pergumulan dengan diri lewat setiap refleksi dan pemberian arti terhadap simbol yang dijumpai dalam permenungan/refleksi itu. Didalamnya kita diajak untuk masuk lebih jauh kedalam diri dan melihat kemanusiawian diri kita. Dengannya kita dihantar untuk mengenal dan mengetahui diri sebelum kita mengenal dan mengetahui orang lain.
Banyak orang mampu untuk berkeliling kemana saja, tetapi sedikit saja yang mampu untuk masuk ke antariksa hati. Sedikit tentang hal ini ada yang memberikan nama untuk tahap-tahap yang dilewati, seperti sebuah sekolah/perguruan. Misalnya: SPK (Sekolah Pemuridan Kristus); kita diajak untuk mengenal diri sehingga menjadi murid/orang yang baik, dan dengan SPK kita melewati sebuah Universitas yang sangat besar dalam hidup, yang apabila tidak mampu melewatinya maka akan menjerumuskan diri bahkan orang lain kedalam hal yang tidak diinginkan; itulah Universitas Kesulitan. Namun SPK memampukan kita untuk melwati Universitas itu karena kita sudah disiapkan dan menyiapkan diri memasuki Universitas itu. Semuanya itu kita lewati juga melalui SPG (Sekolah Padang Gurun); dengan SPG kita mampu melihat hal-hal dalam diri; baik hal yang positif maupun hal negatif. Disini (SPG) kita dicobai untuk masuk kedalam diri.
Mengenal lebih dekat siapa diri kita dengan menggunakan metode pertanyaan penuntun bagi diri: Siapa diri saya? Bagaimana diri saya? Mengapa diri saya? Dimana diri saya? Kapan diri saya?; dan Apa diri saya? Dengan pertanyaan-pertanyaan terhadap diri ini kita berusaha untuk mengenal diri dan akhirnya kita juga dimapukan untuk memahami diri untuk terus bertumbuh dan berkembang dalam setiap proses hidup dalamm relasi-relasi, kegiatan dan situasi yang kita lewati dalam hidup, baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain dimanapun kita berada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar