Sabtu, 18 Mei 2013

VENI CREATOR SPIRITUS

Dalam banyak budaya lokal tradisional, dikenal proses inisiasi yang menandai masuknya orang tersebut ke masa dewasa. Inisiasi berarti meninggalkan satu periode lama dan memasuki periode baru dengan pola hidup dan tanggungjawab yang berbeda pula. Dalam banyak hal, orang yang sudah dinisiasi dituntut untuk tampil secara dewasa dan menyumbangkan sesuatu demi kehidupan bersama.
Hari raya Pentekosta adalah adalah satu peristiwa inisiasi iman para murid Tuhan. Setelah sekian lama hidup dan bergantung pada Yesus, kini mereka dituntut untuk hidup mandiri. Kemandiriannya itu memberikan mereka ruang gerak ysng besar untuk berefleksi dan mengekspresikan imannya dalam bentukk yang menurut mereka layak. Namun sejalan dengan itu, merekapun dituntut untuk menyebarkan iman dan menjadi teladan bagi umat.
Setiap kali kita merayakan peristiwa Pentekosta, kita merayakan inisiasi iman yang menuntut tanggungjawab yang lebih besar. Tanggungjwab ini lebih bersifat partisipatif, yakni turut serta dalam karya missioner Kristus.
Hari ini kita merayakan pesta Pentekosta, pesta turunnya Roh Kudus atas para Rasul. Oleh karena dijiwai oleh Roh Kudus, mereka menjadi saksi Kristus yang tangguh dan beriman, serta berani mengatakan kebenaran.
Peristiwa turunnya Roh Kudus, bukanlah suatu peristiwa yang sekali terjadi dan tidak akan pernah terulang lagi. Roh Kudus turun ke atas kita ketika kita dibaptis, dan pada saat itu kita telah menjadi kenisah Roh Kudus. Oleh karena itu, Roh Kudus tetap menyertai kita, hanya kita kurang  bahkan tidak menyadarinya.
Dalam situasi hidup yang penuh dengan kesulitan dan tantangan, kita sungguh sangat membutuhkan Roh Kudus. Tetapi apakah kita terbuka dan membiarkan hidup kita dipimpin oleh Roh Kudus?
Pada hari raya Pentekosta, kita berdoa dan bernyanyi: “Utuslah RohMu, ya Tuhan, dan kami akan diciptakan baru. Engkau akan membaharui seluruh muka bumi”.
Semangat yang menjiwai dunia kita dewasa ini adalah semangat yang bertentangan dengan yang dilukiskan oleh Santu Paulus sebagai hasil karya Roh Kudus. Seluruh muka bumi kita diwarnai oleh persaingan. Semakin sering kita mendengar tentang globalisasi, pasar bebas seluas dunia ini yang akan memicu persaingan bebas dalam segala bidang kehidupan, dengan tujuan memperoleh keuntungan sebesar mungkin demi kepentingan diri sendiri dengan cara yang tidak manusiawi; menindas dan menyingkirkan yang lemah.
Di mana ada persaingan, di situ ada orang yang kalah, disingkirkan bahkan dimatikan dalam persaingan.
Dewasa ini ada ratusan juga orang yang disingkirkan, yang hidupnya dirusakkan, yang dikorbankan di atas altar dewa mamon yang semakin kuat dan berkuasa.
Kita tidak dapat menyangkal kenyataan dan kebenaran yang sedang terjadi di bumi nusantara ini. Sekarang ini bukan ke-Tuhan-an yang Maha Kuasa tetapi keuangan yang berkuasa atas hidup kita.
Bukankah ini suatu pencemaran terhadap martabat kita sebagai kenisah Roh Kudus?
Semangat persaingan, saling menghancurkan, saling memfitnah, saling menyingkirkan dan saling mematikan inilah yang dilawan oleh Roh dan semangat dari Allah sendiri. Sebab di mana Roh Tuhan berkuasa, di situlah hidup semua orang dapat berkembang dalam semangat solidaritas, sambil mengusahakan kebahagiaan dan kesejahteraan bersama, bukan kebahagiaan dan kesejahteraan diri sendiri atau segelintir orang.
Mengusahakan kebahagiaan dan kesejahteraan  bersama inilah buah dari Roh Kudus yang mau membaharui muka bumi dengan jalan membaharui dan mentobatkan hati kita.
Ada suatu peristiwa yang biasa  tetapi aneh pada saat itu. Seoranh teman mempunyai anak kecil. Mereka kedatangan seorang tamu asing yang membawa serta anak kecil juga. Kedua anak itu mempunyai bahasa yang sangat berlainan. Tetapi dalam waktu yang relatif singkat, keduanya bisa saling berkomunikasi, bermain dan kesannya saling mengerti satu sama lain.
Keduanya asyik berteman tetapi menggunakan bahasa yang berlainan. Waktu itu ada orang tuanya keheranan dan berpikir mengapa bisa jadi seperti itu? Dan sampai pada satu kesimpulan sementara, harap ini keliru, mereka bisa saling berkomunikasi, meski pun bahasanya tidak sama, karena saat itu mereka menggunakan “Bahasa Kasih, Bahasa Hati”. Hati mereka begitu polos, tanpa prasangka buruk dan begitu terbuka tanpa menutup-nutupi apapun yang ada dalam hati mereka. Hati yang terbuka inilah yang mendorong mereka untuk saling berteman, berkomunikasi, dan memudahkan saling pengertian. Orang tuanya lalu berkata dalam hati; "bahasa Roh Kudus seperti itu."
Roh Cinta Kasih yang ada dalam diri manusialah yang mendorong orang untuk terbuka dan mau membuka isi hatinya kepada orang lain, sehingga terciptalah komunikasi dan dialog persaudaraan.
Roh Kuduslah yang memungkinkan orang saling mencintai lebih dari segalanya. Oleh sebab itu, “Jangan kamu menyedihkan Roh Kudus yang berdiam di dalam dirimu, karena di dalam Dia, kamu telah dimeterai…. Sebaliknya, hendaklah kamu baik hati seorang terhadap yang lain dan hidup dalam cinta kasih” (Ef. 4:30-32; 5:2).
Yesus Kristus memberikan kita kesempatan untuk memancarkan kasih-Nya dan kebaikan-Nya kepada setiap orang yang kita jumpai dalam ziarah hidup kita di bumi ini. Ia sendiri mengatakan: “Biarkanlah terangmu bersinar di depan mereka, supaya dengan melihat perbuatanmu yang baik, mereka akan memuliakan Bapamu di surga.”
Kepada kita dianugerahi rupa-rupa karunia untuk bersaksi tentang keselamatan dan perdamaian dunia. Maka keterlibatan kita dalam aneka bentuk pelayanan merupakan perwujudan yang paling nyata akan kehadiran Kristus dalam misi penyelamatan bangsa manusia dan memperbaharui wajah dunia.
Kita tidak mempunyai apa-apa untuk memberikannya kepada orang lain. Tetapi kita mempunyai kewajiban untuk menolong orang lain supaya menjadi baik dan berbahagia, dengan menggunakan bahasa Roh yaitu “Bahasa Kasih-Bahasa Hati” secara jujur dan terbuka.
Roh Kudus akan membaharui kita kalau kita: "MengijinkanNya, Menerima kedatanganNya, Berhenti menolakNya."
Tetap berharap padaNya dalam segala hal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar